Pada awalnya implementasi IS/IT bertujuan hanya untuk memfasilitasi kebutuhan di tingkat operasional dan mid level management. Namun dalam perkembangannya organisasi sudah mulai mempertimbangkan untuk menggunakan IS/IT sebagai salah satu sarana dalam pengambilan keputusan strategis di organisasi.
Dalam implementasi IS/IT, sudah menjadi kepercayaan umum, bahwa semuanya harus dimulai dari perencanaan yang matang. Namun, ternyata dalam prakteknya, pembuatan perencanaan untuk implementasi IS/IT memerlukan effort yang sangat besar dalam meyakinkan top management bahwa IS/IT yang akan diterapkan ini memiliki impact yang strategis untuk organisasi dan bisa memberikan keuntungan yang substansial. Dalam proses ini, planner dituntut harus bisa menangkap Business Objectives yang dimiliki oleh organisasi, dan ini merupakan prerequisite yang harus dilakukan untuk meyakinkan Top management, bahwa kegiatan implementasi IS/IT ini memiliki potensi positif untuk kebijakan strategis organisasi.
Kepentingan dalam meyakinkan top management juga dipengaruhi oleh fungsi top management sebagai penanggung jawab secara umum perencanaan dan pelaksanaan keputusan strategis organisasi. Hal ini berimplikasi bahwa implementasi IT juga secara langsung berada dalam lingkup tanggung jawab top management, bukan hanya di jajaran pelaksana operasional saja.
Pada dasarnya, IS/IT yang mempunyai strategic impact akan membantu organisasi dalam menvapai tujuan dan bisnis objectivenya (Lederer, Katz, 1988). Namun dalam perpspective yang lebih luas, Porter mengidentifikasi ada 3 strategi bisnis yang umum, yaitu :
1. Differentiation
Hal ini mengacu kepada kebijakan organisasi untuk membuat product atau layanan yang mereka hasilkan bersifat unik, berbeda dengan yang lain.
2. Cost leadership
Mengacu kepada kebijakan organisasi untuk menyediakan produk atau service dengan menekan biaya yang dikeluarkan, sehingga lebih murah.
3. Focus
Mengacu kepada kebijakan organisasi untuk menyediakan produk atau layanan kepada segmen tertentu yang lebih sempit dan spesifik.
Ketiga strategi diatas, digunakan oleh organisasi untuk mengendalikan industry forces yang lebih dikenal dengan Porter’s Five Forces, yaitu :
• Rivalitas dengan organisasi yang sudah exist
• Posisi tawar supplier
• Posisi tawar pembeli
• Ancaman dari product substitution
• Ancaman dari new entrants
Namun kajian dari Porter masih bersifat umum, tidak spesifik menyinggung IS/IT. Lebih spesifik dalam implementasi yang berkaitan dengan IS/IT, Mc Farlan menggunakan teori Porter dalam kajian yang berkaitan langsing dengan IS/IT. Hasilnya, Mc farlan menyimpulkan, bahwa IS/IT bisa mempunyai Strategic impact jika digunakan untuk :
1. Membangun barrier terhadap new entrants
2. Mengubah basis kompetisi
3. Membuat produk baru
4. build in swtiching cost
5. Mengubah keseimbangan dari hubungan supplier
continued …