Penderitaan dalam Kejujuran, sebuah renungan …

Author:

Kata orang, kejujuran terhadap apa yang kita rasakan dan berani mengakui apa yang ada dalam diri kita, akan membuat hati kita lebih tenang, dan terbebas dari beban dan belenggu pikiran sebagai ekses atas apa yang kita rahasiakan.

Tapi, kayaknya tidak semua kejujuran berbuah hal yang sama. Ada kejujuran, yang bukannya membuat diri terbebas dari kekangan beban hal yang kita rahasiakan, justru malah membuat diri lebih terpuruk kedalam jurang penderitaan. Yang istilahnya, mencari cahaya dari gelapnya malam, malah masuk ke dalam gelapnya gua yang entah ada ujungnya atau tidak.

Sebelum kebenaran itu diungkapkan, beban yang mengelayuti diri hanyalah beban dari sebuah harapan. Harapan untuk menggapai sesuatu yang dirasakan sebagai hal yang pantas dan tidak berlebihan untuk kejar, serta memang tujuan akhir dari harapan tersebut adalah untuk setitik kebahagiaan dari sebegitu banyaknya kebahagiaan yang diberikan oleh Dzat yang maha pengasih dan penyayang.
Dan dengan harapan tersebut, justru membuat hidup semakin berwarna dan berarti karena ada hal yang ingin dicapai.

Tapi, setelah kebenaran itu terungkap, yang berarti berani untuk mengekspose harapan yang dulu dirahasiakan, yang terjadi justru malah diluar ekspektasi. Bukannya terlepas dari beban yang selama ini mengelayuti, malah beban tersebut semakin besar dan mendorong diri kedalam gelapnya ketidakpastian sebagai akumulasi dari kekhawatiran, pesimisme, untuk bisa meraih tujuan akhir dari harapan yang telah diletakkan dalam cawan bening tanpa tirai tersebut.

Kadang terpikir, seandainya harapan tersebut tetap disimpan dalam kotak dinding besi dan tidak pernah ada yang tahu kecuali pemilik kuncinya, maka ada kemungkinan penderitaan itu tidak akan muncul.

Tapi, semua sudah terjadi. Yang terjadi maka terjadilah. Ambil sisi positifnya aja. Mudah-mudahan semua ini, penderitaan ini, akan berakhir dengan bahagia, walaupun akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Janji untuk terus memelihara harapan ini, walau dengan susah payah, akan diabadikan dalam prasasti dalam dada.

(Jakarta, 31 juli 2010, 10:21 PM)
Taman Setiabudi 5.

One thought on “Penderitaan dalam Kejujuran, sebuah renungan …”

  1. ngomong apa lah anak ini…
    kayak yang berat kali pun beban hidupnya… 😛
    aneh2 saja.. 😀
    ekspresikan dirimu bung…!

Leave a Reply to asaria Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *