Love doesn’t need an education level …

Author:

Sepotong kalimat yang diucapkan temenku ketika malam ini ngobrol yang gak tahu dimulai dari mana kok akhirnya malah nyampe di kalimat tersebut. Bagi sebagian orang mungkin istilah cinta, mencari cinta adalah makanan sehari-hari yang bisa dengan mudah dijadikan sebagai penghias kehidupan. (Sebelumnya harus diluruskan dulu,  istilah cinta disini menggunakan makna yang sempit, yaitu rasa senang yang timbul kepada lawan jenis). Namun bagi sebagian orang perlu waktu dan butuh perjuangan yang sangat berat untuk memahami dan menyelami makna dan mendapatkan feel terhadap kata sakral itu. Hal itu bisa disebabkan oleh ego, latar belakang kehidupan atau faktor lain yang menyebabkan adanya RF (resistance force) terhadap cinta.

Pernahkah terbersit dalam pikiran, bahwa kita pasti ingin mendapatkan pasangan hidup kita itu selevel ? baik itu level pendidikan, kepintaran ataupun level materi ?. tidak bisa dinafyikan bahwa hal ini memang ada dan sangat manusia untuk terjadi kepada manusia. Contoh ini merupakan contoh real resistance force yang menyebabkan kesulitan untuk menggenggam entitas cinta beserta turunnannya. Bahkan mungkin ada yang menganggap bahwa mencari pasangan harus dilihat dari dua sisi, yaitu ditinjau dari perspektif apakah pasangan kita itu termasuk cost center atau profit center. Dan tentu saja ini masih manusiawi. Tentunya kita tidak ingin, bahwa sebuah hubungan yang dibentuk itu menjadi sebuah proses saling membebani antar pelakunya. Seharusnya sebuah hubungan harus dilandasi keinginan saling mengisi dan melengkapi. Dengan landasan inilah maka kelanggengan dan ketulusan sebuah hubungan bisa terus berjalan dan meminimalkan gesekan yang mungkin terjadi.

Kadang terjadi juga, sebuah hubungan tidak bisa dilanjutkan atau bahkan tidak bisa terbentuk hanya karena alasan prestise saja. Prestise yang hanya dinikmati lahiriah, namun mengabaikan sisi bathiniyah. Menikah dengan seorang anak presiden tentu akan memberikan level prestise yang lebih bagi seseorang, jika dibandingkan menikah dengan seorang anak petani yang datang dari pelosok ujung negara indonesia yang bahkan tidak pernah nongol dipeta. Namun apakah ini cukup, apakah kita bisa menggapai kebahagiaan dalam sebuah hubungan hanya dilandasi kepuasan lahiriah saja. Tentu tidak, karena secara kodratnya manusia diciptakan memiliki dua sisi yang saling melengkapi dan harus dijaga keseimbangannya, sisi lahiriah dan bathiniyah. Ketika sisi lahir mendapat pasokan yang cukup, namun sisi bathin menderita, maka kebahagiaan yang ada hanya pura-pura. Keseimbangan kedua sisi ini mutlak diperlukan agar terjadi harmonisasi dalam hidup. Bahkan kecenderungan yang terjadi, ketika kebutuhan bathiniyah bisa dipenuhi, maka kebutuhan lahiriah cenderung lebih positif. Contoh simpelnya, penahkan kita melihat sebuah keluarga sederhana, tinggal di rumah yang sederhana, namun senyum dan tawa selalu menghiasi rumah tersebut. Namun ada keluarga yang tinggal dirumah besar, mewah dengan mobil terparkir dimana-mana, namun selalu sepi, tidak pernah terdengar senyuman, bahkan raut muka penghuninya selalu kelihatan cemberut.

Ini semua mungkin diakibatkan oleh satu faktor, yaitu ego, ego yang melahirkan kebutuhan akan prestise, ego yang melahirkan sisi materialistis lebih dominan, ego yang menyebabkan keinginan untuk mendapatkan yang lebih dan lebih lagi tanpa mempertimbangkan aspek sifat kemanusiaan yang ada, ego juga yang menghalangi seseorang untuk mengungkapkan perasannya. Ego di satu sisi memang diperlukan, namun disisi yang lain kadang harus dipinggirkan terlebih dahulu.

Dalam mencari entitas cinta, yang diperlukan adalah saling memahami kebutuhan masing-masing pasangan. Seorang pria harus memahami kebutuhan yang dibutuhkan seorang wanita, begitupun sebaliknya seorang wanita harus bisa memahami kebutuhan dan kesulitan yang dihadapi pria. Ada tulisan menarik disini (ijin ngelink ichee):

http://asaria.wordpress.com/2010/02/15/what-a-woman-need/

yang dibutuhkan seorang wanita adalah feel secured and beloved. jadi buat para pria, buatlah pasanganmu merasa aman ketika berada didekatmu, dan selalu merasa dicintai. Dan buat para wanita, buatlah pria pasanganmu merasa nyaman berada disisimu, merasa dibutuhkan dan tidak merasa dimanfaatkan.

Kesimpulannnya, bagi orang-orang yang masih kesulitan untuk mendapatkan entitas cinta karena egonya, maka akhirilah … hidup itu yang penting ikhlas, keikhlasan untuk menerima apapun yang terjadi pada diri sebagai sesuatu yang terbaik. Kadang, apa yang diinginkan bukanlah hal terbaik buat hidup kita.

Cinta bukan milik sebagian orang, cinta adalah anugerah untuk semua orang. Cinta bukan hanya milik profesor, doktor ataupun pesohor, namun cinta adalah milik orang-orang yang menginginkannya.

Akhir kata, mulailah berusaha untuk mendapatkan dan ikut bergabung dengan orang-orang yang telah memiliki ikatan cinta. Jangan malu untuk berkata, “ I do need you”. Dan jangan takut dengan kata “I do don’t like you at all forever in this life “.

(Credit to Sari Amelia, thx atas obrolannya)

2 thoughts on “Love doesn’t need an education level …”

Leave a Reply to gak penting Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *