Keyword: chemistry, inner beauty, pasangan hidup, proyek TI, kompetensi . Biar tidak lupa yang didapat waktu kuliah tadi. Sebenarnya tema ini asalnya merupakan bagian dari pembahasan change management and conflict yang disampaikan oleh Bpk. Riri Satria (see.. ririsatria40.wordpress.com). Namun, dalam tulisan ini mungkin akan dibahasa dari perspektif yang lain, social networking, isu profesionalitas, memilih pasangan hidup, dan isu-isu yang lainnya yang mungkin akan muncul yang sekarang belum kepikiran sewaktu mulai menulis tulisan ini.
Dalam ilmu managemen sumberdaya manusia terkait dengan penempatan seseorang dalam sebuah posisi, baik itu dalam kasus disebuah organisasi, strata sosial kemasyarakatan, (erkecuali posisi dalam sebuah sistem yang menganut sistem kerajaan atau kesultaan yang cenderung mengedepankan sistem pewarisan), maka ada 2 faktor penting yang mendasari keputusan tersebut, yaitu :
- faktor kompetensi
- faktor chemistry
Faktor yang pertama, adalah faktor kompetensi yang terkait dengan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor seseorang di bidang tertentu. Hal ini mungkin bagi sebagian orang merupakan faktor pertama yang dilihat dalam menempatkan orang ini pada posisi yang sesuai dengan bidang yang dia kuasai. Sebagai contohnya, ketika seorang karyawan ditempatkan dalam posisi programmer, pasti alasannya adalah kemampuannya dalam level programming yang mungkin lebih jika dibandingkan dengan kempuannya dalam bidang marketing misalnya, atau ketika seseorang ditempatkan sebagai seorang system analis IT, pasti disebabkan karena kemampuan daya analisisnya yang bagus dalam bidang IT.
Hal ini dalam dunia IT, khususnya yang berhubungan dengan bidang teknis, faktor inilah yang mempunyai kredit paling besar. Dengan tujuan untuk mendeliver sebuah solusi IT yang handal dan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pemilik proyek, maka tentu saja tim yang diturunkan dalam tim pengembang adalah tim yang memiliki kompetensi yang tinggi pula.
Namun ternyata, dalam beberapa kasus yang pernah dihadapi oleh penulis, ternyata tim yang dihuni oleh orang-orang dengan kompetensi yang tinggi dibidangnya, tidak serta merta bisa mengantarkan proyek tersebut menuju level sukses, bahkan ada yang tingkat kesuksesannya sangat rendah sekali. Mengapa hal ini terjadi ?. Setelah ditelisik lebih lanjut ternyata bukan kemampuannya yang kurang bagus atau requiremen yang didapatkan tidak jelas, namun disebabkan oleh timbulnya konflik didalam tim tersebut. Pertanyaan selanjutnya, kenapa bisa terjadi konflik ? apakah sebelum proyek dilaksanakan tidak ada assesment risiko dan konflik yang mungkin terjadi selama pelaksanaan proyek tersebut ? atau justru ada faktor yang tidak dimasukan dalam pertimbangan pembentukan tim pengembang tersebut terkait pemilihan anggotanya ?, dan ternyata jawabannya adalah adanya faktor yang kadang dilewatkan, yaitu faktor chemistry antar anggota tim pengembang, yang justru ini kadang memiliki porsi yang besar dalam kesuksesan pelaksanaan sebuah proyek. Untuk jelasnya, bagian chemistry akan dibahas pada bagian tersendiri.
Faktor Chemistry, adalah faktor penilaian seseorang berdasarkan pendekatan sisi kemanusiaan, seperti faktor kekeluargaan, faktor emosi, faktor karakter dan sikap. Faktor ini memiliki peranan yang sangat penting. Dalam contoh diatas, kegagalan yang terjadi dalam pembentukan sebuah tim proyek akibat mengabaikan faktor ini. Ada mungkin anggota tim yang memiliki kompetensi teknis yang sangat tinggi, mungkin jenius, tapi tidak bisa klop dengan anggota tim secara mayoritas, misalnya tidak mau menerima pendapat orang, merasa diri selalu paling benar, sehingga pada akhirnya riak-riak konflik yang lama kelamaan semakin meuncak dan pada akhirnya menghambat pelaksanaan proyek.
Aspek kompetensi dan chemistry juga tidak hanya berlaku di tataran teknis IT atau tataran bisnis saja, bisa juga ditemui dikehidupan sehari-hari, namun kadang tidak kita sadari. Cuma yang jadi permasalahan selanjutnya adalah, aspek manakah yang akan kita dahulukan, apakah aspek kompetensinya dulu atau aspek chemistrynya dulu?. Dalam beberapa kasus, mungkin aspek kompetensi yang diutamakan, misal dalam pemilihan tim olimpiade fisika, pastinya kompetensi dibidang fisika yang diutamakan. Namun dalam kasus lain, aspek chemistry yang diutamakan.
Ada pertanyaan yang menggelitik yang dilontarkan, dalam pemilihan pasangan hidup, mana yang lebih diutamakan, chemistrynya dulu atau kompetensinya dulu ?. dan Ternyata, lebih banyak yang memilih chemistrynya dulu, baru kompetensinya. Mengapa demikian ? alasannya simple saja, chemistry itu berkaitan dengan karakter, dan tipikalnya mengubah karakter seseorang itu sangaaaaaaaaat sulit, mungkin bisa berubah, tapi memiliki effort yang sangat besar. Faktor chemistry sangat erat kaitannya dengan istilah inner beauty yang dimiliki oleh seseorang.
Sedangkan kompetensi, berhubungan dengan kemampuan kognitif yang notabene lebih mudah untuk dibentuk. Karena katanya potensi manusia itu dari sisi ini sama, yang diperlukan untuk upgradenya hanya kerja cerdas saja. Sebagai perbandingan, kemampuan untuk memecahkan relativitas umum einstein, bisa dilakukan dengan belajar, seminggu mungkin bisa dipecahkan. Namun, untuk mengubah seseorang dari yang tadinya pemarah, emosian menjadi penyabar, mungkin butuh waktu tahunan.
Dalam kasus pemilihan posisi di organisasi pun, belum tentu nepotisme itu jelek. Mengapa begitu ? silahkan anda pikirkan sendiri …. (hehehehe xD).
Kesimpulannya, faktor kompetensi dan chemistry harus selalu menjadi faktor pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Sedangkan penentuan mana yang lebih dulu diprioritaskan, tergantung kasusnya.
Namun jika setelah anda melaksanakannya masih menemui kegagalan, cobalah evaluasi lagi kegagalan tersebut, bukan kesalahn pemilihan kedua faktor tadi, tapi bisanya diakibatkan kesalahan dalam menentukan prioritas utama dari kedua aspek tersebut.
Final word :
“ Never surrender on first rejection “ ……….. coba dan cobalah lagi …
Catatan Kuliah MPPTI (A.Ahmad Kusumah)
MTI-UI 28 April 2009 (rabu)
Lecturer : Bpk. Riri Satria
good note Mas Ahmad …