Chapter IV : Cinta sejati itu memang ada …

Author:

Sepenggal kalimat yang terus menerus terngiang dalam sanubari. Ketika bicara tentang cinta dan kasih sayang, takkan pernah habis waktu untuk hal itu. Cinta dan kasih sayang juga yang menjadikan hidup terasa lebih berwarna, membuat semangat hidup terus tumbuh, membuat rasa optimis dalam menjalani lika-liku kehidupan, yang terkadang dan memang sudah menjadi sunatullah selalu naik turun antara dua sisi yang berlawanan, kadang membahagiakan kadang menyedihkan. Namun dengan cinta, hal tersebut tidak akan mempengaruhhi kualitas hidup, bahkan satu momen ketika manusia dicoba dengan kesedihan, maka dengan taburan cinta dan kasih sayang, justru hal itu akan membuat langkah manusia makin tegap dan makin kuat untuk terus berjalan menuju rasa syukur atas segala nikmat yang begitu besar dari Tuhan, jika dibandingkan dengan kecilnya cobaan yang menimpa. Cinta … sungguh anugrah yang terindah yang diberikan sang Maha Pencipta pada makhluknya, tanpa cinta tidak akan tercipta kedamaian didalam kehidupan manusia di dunia.

Namun mengapa kadang ada orang yang desperate karena cinta ? menangis bombay karena putus cinta. Itu disebabkan (mungkin) oleh kesakitan akibat harus menghilangkan kenangan manis selama mengarungi hidup dalam bahtera penuh warna. So, bukan karena cintanya itu sendiri, tapi karena memori yang ditinggalkan oleh rasa yang selalu ada dalam “strawbery tart”, sehingga posisi cinta bergeser dan ditutupi oleh kelabunya awan kesedihan. Memang sangat sulit untuk melepaskan sesuatu yang telah membuat hidup makin bermakna dan berwarna, but indeed ini bukan sebuah alasan untuk hidup terus terkungkung dalam kesedihan. Bahwa selalu ada ibrah (hikmah) yang bisa diambil dari setiap peristiwa, berpikir positif,   merupakan salah satu obat untuk mengembalikan posisi cinta pada tempatnya dan berperan kembali dalam menghidupkan suasana hati yang terlanjur teriris-iris. Salah satu cara yang paling efektif, palingkanlah cinta dari seseorang yang membuat hidup menderita karena tipu dayanya, kepada Dzat Sang Pemberi cinta dan kasih sayang.

Kadang terlintas pertanyaan, apakah ada yang namanya cinta sejati, selain cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, selain cinta kepada kedua orang tua ?. trus cirinya seperti apa ?. secara definitif, ada yang membuat pengertian mengenai cinta sejati sebagai rasa senang, berbunga-bunga dan membuat perasaan berada pada level kebahagian terus-menerus kepada seseorang yang disebabkan oleh sesuatu hal yang kadang tidak bisa dijelaskan. Bukan karena kecantikannya, bukan karena kekayaannya, pokoknya senang aja. Ada yang menambahkan parameter lain yaitu tak lekang oleh waktu ….

Pernahkah merasakan ketika menyukai seseorang, setelah sekian lama waktu berlalu rasa itu tetap ada di lubuk sanubari ? walaupun terpisahkan jarak bahkan mungkin bertahun-tahun tidak pernah ketemu lagi namun rasa itu tetap tumbuh subur di relung hati ?. Itulah contoh sederhana yang karakternya mirip dengan cinta sejati.

Ada sebuah kisah, tersebutlah sebuah keluarga dengan satu orang istri, satu orang suami dan 2 orang anaknya. Pada suatu saat si istri hamil anak yang ketiga. Fase kehamilan yang dialami si istri normal-normal saja, semua anggota keluarga diliputi rasa kebahagiaan karena akan datangnya anggota keluarga yang baru. Suatu saat ketika masa kelahiran akan terjadi, maka dibawalah si istri oleh suami yang sangat mencintainya ke rumah sakit dan karena satu dan lain hal, si istri terpaksa harus melewati operasi cesar untuk menyelamatkan bayi dan ibunya. Namun tuhan berkehendak lain, si istri memang selamat, namun bayinya tidak bisa diselamatkan. Hal ini membuat si istri selalu dirundung rasa sedih yang berkepanjangan, sampai akhirnya pasca operasi cesar, si istri jatuh sakit, dan akibat komplikasi yang dialami si istri, menyebabkan syaraf motorik si istri terganggu, sehingga hampir-hampir dia tidak bisa menggerakan seluruh otot tubuhnya.

Semenjak peristiwa tersebut, si suami dengan telaten mengurusi istrinya yang sekarang sudah tidak bisa berdaya. Memandikan, mengganti pakaian sampai membersihkan bekas hajat istrinya dilakukan si suami dengan ikhlas dan penuh kesabaran. Minggu berlalu, bulan dan tahun silih berganti, anak-anak keluarga tersebut sudah mempunyai keluarga sendiri dan pergi meninggalkan si suami sama istri tersebut untuk membaktikan hidupnya pada keluarganya yang baru. Rutinitas si suami tetapa seperti biasa, pagi-pagi ketika akan berangkat bekerja memandikan dulu istrinya, mengganti bajunya dan mengangkatnya ke sofa, menyalakan televisi agar si istri tidak kesepian ketika dia sedang bekerja. Hal itu dilakukan terus menerus tanpa merasa ada beban sekalipun.

Suatu waktu, melihat ayah mereka yang sudah tua namun masih tetap melayani kebutuhan ibunya dengan segala kemampuannya, salah seorang anak keluarga tersebut menganjurkan kepada ayahnya, biarkanlah ibunya dia yang mengurus agar ayahnya bisa istirahat menikmati masa tuanya. Namun jawaban si ayah menjawab,

“ Tahukah kamu nak, ayahmu ini mencintai ibumu sepenuh hati, bukan karena kecantikannya, karena seandainya ayah mencintai ibumu karena kecantikannya mungkin dari dulu semenjak ibumu sakit sehinngga badannya semakin kurus, rambutnya rontok, ayah akan menikahi wanita lain yang lebih cantik. Seandainya ayahmu mencintai ibumu karena hartanya, maka ketika harta benda habis untuk pengobatan ibumu, maka ayahmu ini mungkin akan mencari wanita lain yang lebih mampu dan berada secara harta dari ibumu. Dan seandainya saja ayahmu ini mencintai dan menikahi ibumu karena syahwat lahiriah, maka ketika ibumu sakit dan tidak bisa lagi memberikan pelayanan kepada ayahmu ini, mungkin saja ayahmu akan menceraikan ibumu dan mencari wanita lain yang masih normal dan bisa melayani ayahmu. Namun tidak nak, ayahmu mencintai dan menikahi ibumu karena ayahmu benar-benar menyayangi ibumu karena  Allah dan sebagai sarana ibadah kepada-Nya. Maka, nak, biarkanlah selama sisa hidup ayahmu ini, ayah menjalankan sumpah setia ayahmu ketika melakukan ijab qabul dihadapan pennghulu untuk menerima, mencintai dan menyayangi ibumu apa adanya, dan merawat ibumu sampai maut memisahkan ibu dan ayahmu. Semoga kelak, kami dipertemukan kembali di surganya Allah SWT.”

“Bersyukurlah bagi orang-orang yang memiliki cinta kasih dihatinya”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *