Hari itu diperempatan sudut kota jakarta, ketika kilatan cahaya kilat yang terlukis diangkasa, seperti siluet akar langit yang mencengkram bumi, menebarkan pesona keindahan sekaligus menggambarkan kekuasaan dengan gelegarnya, basah kuyup sesosok tubuh berdiri di tepi kolam air dengan landasan aspal bolong2 tergerus air hujan, berdiri membungkuk meratapi nasib, menggelar tangan mengharap belas kasihan … Sosok itu, keriput wajahnya, sorot matanya seakan telah menjadi saksi perjuangan tiga jaman, jaman ketika hidup dalam belenggu penjajahan, jaman ketika hiruk pikuk revolusi 66 dan meriahnya reformasi 98 yang sekarang nggak tahu kelanjutannya … tiga jaman itu berbeda, tapi punya satu kesamaan, hanya memberikan penderitaan bagi dirinya, lahir bathin …
Sosok itu terus berdiri, memaksakan diri sampai titik akhir .. bersanggakan tongkat harapan, harapan akan datangnya seorang dermawan, namun apa yang diharap tidak selalu sesuai dengan kenyataan, letihnya kaki berdiri, bungkuknya kondisi badan tidak sedikitpun menyentuh nurani, mereka, orang-orang dengan segala kelebihan .. acuh tidak peduli …
Sosok itu akhirnya tenggelam dalam dalam keremangan ibu kota diselimuti kepedihan dan ketidakadilan hidup, bukan ketidakadilan Tuhan, tapi ketidakdilan pengemban amanah negeri… yang hanya sibuk akan urusannya sendiri tanpa peduli jerit tangis jutaan penghuni negeri …..