Ramadhan, Dosa, Do’a dan Diri .. (nasihat untuk diri sendiri)

Author:
Courtesy of http://mobavatar.com

Tidak terasa waktu semakin cepat berlalu. serasa baru kemarin menyambut bulan yang diberikan keistimewaan oleh Yang Maha Pengasih, sekarang sudah datang kembali saat ketika bulan ini menyambangi. Bulan Ramadhan, Bulan suci bulan penuh keistimewaan, bulan yang hari-harinya dipenuhi maqomul ijabah, bulan yang setiap napasnya dipenuhi dengan rahmat dan barokah, bulan yang setiap waktunya dipenuhi oleh deretan-deretan mutiara Rahman dan Rahim nya Allah SWT.

Bulan ini terasa sangat istimewa, karena pada bulan inilah, masjid besar menjadi kecil karena penuh sesak dengan orang yang beribadah, lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an terdengar diseluruh pelosok, tingkat kebaikan menjadi tinggi, Ghirah untuk ma’rifat kepada yang Maha Kuasa membesar, jiwa sosial menjadi tinggi, semua kebaikan se-akan-akan terbuka lebar di bulan ini.

Teringat 3 ramadhan yang telah dilewati, itulah masa ketika diri sedang sangat labil, terseret-seret gelombang harapan dan kenyataan. Ketika kegalauan menyelimuti, kegagalan datang bertubi-tubi, cobaan datang silih berganti, ketika hampir lepas dari pegangan yang semestinya, ketika hampir saja tenggelam kedalam kekufuran terhadap kekuasaan ilahi. Pokok pangkalnya hanyalah masalah hati, tapi efeknya hampir mempengaruhi seluruh aspek dalam diri.

Benar, Jihad yang paling besar yang harus dihadapi adalah jihadun nafsi … Jihad untuk melawan nafsu syahwat duniawi, jihad untuk mengendalikan hati. Seorang ulama besar berkata, hati itu hanya satu , tetapi diperebutkan oleh akal dan nafsu. ketika nafsu menguasai, maka hati akan memerintahkan badan untuk mengikuti keinginannya, namun ketika akal yang menguasai, maka hati akan memerintahkan diri untuk selalu menghadap kepada Allah, Rabbul ‘alamin.

Pada bulan ini, dalam sebuah hadits disebutkan, pintu-pintu neraka ditutup, dan pintu rahmat dibuka. syetan-syetan dibelenggu, iblis-iblis dikunci. Namun anehnya, walaupun begitu, masih banyak orang yang berbuat maksiat, kejahatan dan sejenisnya. Hal ini kembali lagi ke masalah hati.

Ketika hati selalu mengikuti keinginan hawa nafsu, dan tidak mengindahkan peringatan akal, maka lama kelamaan, hati akan terlatih untuk terus mengikuti keinginan nafsu, walaupun goadaan dari syetan tidak ada. istilahnya, hal tersebut sudah menjadi adat kebiasaan.

Ada perumpamaan, Hati itu asalnya sebening kaca. saking beningnya tidak ada satupun noda yang ada di dalamnya. Dosa laksana jelaga hitam pekat. Ketika berbuat dosa, maka hati akan ternodai oleh jelaga dosa. jika tidak dibersihkan dengan segera, maka lama-kelamaan hati akan dipenuhi kerak jelaga dosa yang akan sangat sukar dibersihkan. itulah perumpaan orang yang berbuat maksiat di bulan ramadhan. Hatinya telah tertutup debu hitam, karena tidak pernah dibersihkan.

Istighfar, bertaubat adalah lap pembersih hati. Setebal apapun dosa, sekeras-kerasnya jelaga, maka lama kelamaan, jika terus-menerus dibersihkan akan bersih juga. Ikutilah Teladan dari Rasul SAW, bahwa beliau beristighfar dalam sehari tidak kurang dari 70 kali. Coba tanyakan pada diri , berapa kali dalam sehari beristighfar, bertaubat atas dosa- dosa yang berceceran sebanyak buih lautan ?

Kunci untuk menjaga hati akan selalu ada dalam koridor yang diridhloi oleh Allah, adalah dengan Ilmu. Ilmu itu kehidupan hati daripada kebutaan, sinar penglihatan daripada kezaliman dan tenaga badan daripada kelemahan. (Al Ghazali). Dengan ilmu, kita bisa mengetahui mana yang baik, mana yang benar. Ilmu yang paling besar ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Rasulullah SAW bersabda:

Taraktu fiikum amraini maa in tamassaktum bihimaa lan tadhillu abadan, Kitaballahi wa sunnata Rasulihi.

“Kutinggal untukmu 2 hal, yang jika kamu berpegang teguh kepadanya, maka kamu tidak akan tersesat selamanya. Kitabullah dan Sunnah Rasulnya”

Dimulai pada bulan Ramadhan ini, perbanyak Tadabur Al-Qur’an, menyelami kandungan yang ada didalamnya. Kombinasikan dengan Sunnah-Sunnah Shohihah Rasulullah SAW. Jika ada yang tidak mengerti, maka sering-seringlah berkumpul dengan majelis ilmu. selain bisa menambah wawasan keilmuan, semoga bisa menjadi salah satu dari 7 golongan manusia yang dijamin masuk surga.

Ramadhan ini harus menjadi titik tolak untuk menaikan derajat keimanan dan ketaqwaan. Ramadhan ini harus dijadikan momentum untuk memperbaiki diri , lingkungan dan umat. Ramadhan ini harus menjadi awal untuk mensucikan bulan-bulan yang lain dalam kadar ghirah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jadikanlah Ramadhan bukan hanya sekedar bulan suci, tapi jadikanlah sebagai sarana untuk meningkatkan dan memperbaiki kadar diri dihadapan Allah SWT.

Inna Akramakun ‘indallaahi Atqaakum

Semoga, Ramadhan tahun ini jauh lebih baik dari Ramadhan -ramadhan sebelumnya …

 

Amiin Yaa Rabbal’aalamiin …

 

Lampung, 17 Juli 2012

 

Aah Ahmad Kusumah

(Al-Faakir min Rahmati Rabbi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *