Kemarahanku hanya pantas ditujukan untuk diriku, karena begitu banyak dosa yang diperbuat namun masih mencari justifikasi untuk meluruskannya.
Mungkin niat awalku mencari Kebaikan, tapi caranya yang kebablasan ..
Mungkin niat awalku mencari Ridlo Tuhan , tapi nyatanya penentangan ..
Mungkin niat awalku ibadah, tapi caranya menyalahi syari’ah ..
Aku bersyukur, ketika kegelapan itu hampir saja menelanku, aku dipertemukan dengan orang yang memberikan cahaya ilahiah …
Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah ..
Yaa Allah Yaa Tuhanku..
Berikan petunjuk-Mu ..
Terimalah Taubatku ..
Hidup penuh dengan ketidak seimbangan, ketidakadilan .. itulah anggapan orang yang melihat dunia dari sisi keputuasaan.
Ada juga yang menganggap hidup itu hanya masalah sudut pandang atau cara pandang terhadap sesuatu, dan ini memang bisa dibenarkan.
Kita akan merasa miskin jika cara pandang kita berorientasi materi dari sudut pandang orang kaya, dalam artian kita membandingkan keadaan dengan sesuatu yang lebih dari yang dibandingkan. Orang kaya pun akan merasa miskin jika memakai sudut pandang ini.
Benar anggapan bahwa hidup itu adalah perjuangan, perjuangan untuk melawan ego sendiri. ego yang timbul akibat merasa diri lebih.
Kemarahan timbul bisa juga akibat ego yang tidak bisa ditekan. Pernahkah kita mengalami kemarahan yang timbul akibat suatu hal , yang jika dipikirkan dalam kondisi normal sebenarnya hal itu sangat tidak pantas menjadi trigger api amarah ? bukankah ada tauladan dalam kisah ketika Rasul Akhir Zaman di lempari orang thaif, ketika ditawari oleh malaikat untuk meluluhlantakan suku tersebut, beliau berkata , biarkanlah mereka, karena mereka sesungguhnya tidak tahu , dan apakah kamu tahu suatu saat keturunan mereka mungkin menjadi orang yang lebih baik ?.
Tauladan yang lain, ketika setiap hari ketika berangkat ke mesjid beliau selalu diludahi, namun ketika orang yang suka meludahi beliau sakit, beliaulah yang pertama menengoknya.
Namun aku, sebagai kelompok JBOP, mengambil istilah Raid, Just Another Bunch of Person, hanya seonggok manusia yang lemah, sangat mungkin tidak akan sampai tingkatan tersebut, sehingga dalam sebuah keterangan, diperbolehkan untuk marah, namun itupun dibatasi dalam waktu 3 hari. Marah adalah manusiawi, cuma jangan sampai akal sehat mati gara-gara amarah. Marahlah kalau memang pantas marah, tapi cukup sementara, setelah itu tersenyumlah. Janganlah merasa kecewa atau menyesal jika hal ini datang dalam lembaran hidup. Instrospeksi diri, mungkin saja hal tersebut terjadi karena kekurangan kita, keegoisan kita, kesombongan kita yang selalu menganggap lebih dari yang lain. Apakah aku tidak malu ?? …. Seorang hamba tapi memposisikan diri seakan-akan seorang tuan … Marah bukan solusi cerdas, efeknya hanya akan membuat hidup tidak tentram. tapi janganlah pendam kemarahan, lepaskanlah dalam bentuk hal yang positif.
Aku tidak akan sanggup mengekang amarah dan hawa nafsu secara keseluruhan hingga tidak meninggalkan bekas apapun dalam diri kita. Namun jika mencoba untuk me-ngendalikan keduanya dengan cara latihan dan kesungguhan yang kuat, tentu akan bisa.
Namun tidak semua kemarahan itu tidak baik, marah yang tidak baik itu marah yang mendorong manusia kepada kejelekan.
Al-Ghazali pun membagi marah menjadi 3:
1. Marah Terpuji, yaitu marah yang timbul semata-mata karena Allah dan agama-Nya. Contohnya dalam QS 7:150
2. Marah Tercela, yaitu marah yang timbul akibat kemaksiatan, seperti marah karena kalah judi
3. Marah yang diperbolehkan adalah marah yang tidak berkaitan dengan kemaksiatan.
Sebelum marah, ada beberapa hal yang harus diperhatikan :
1. Marahlah dengan cara yang baik
2. Segera ambil wudlu
3. Sebisa mungkin menahan amarah
4. Membaca ta’awwudz
5. Diamlah
6. Ingatlah posisi kita dimata Allah adalah sama, kecuali ketakwaannya.
Wallahu’alam
Dibawah langit-MU
31 Januari 2012
A. Ahmad Kusumah
