Hari kedua bulan ramadhan …
Hari ini puasa dijalani dengan aktivitas yang tetep super sibuk, menembus trafic jakarta- bogor, bogor-jakarta, muter-muterin jakarta seharian ditemani my black casey .. Tapi Alhamdulilah, tidak ada halangan berarti dalam menjalani ibadah yang hanya ditemui setahun sekali ini.
Ada fenomena yang cukup menarik, biasanya ketika berangkat ke jakarta, pasti seperti ajang balapan, setiap kendaraan selalu ingin jadi yang terdepan tanpa menghiraukan cercaan pengendara lain yang merasa terganggu akibat kesembronoon beberapa pengguna jalan yang se-enak jidatnya, namun hari ini, hal itu tidak tampak, semua berjalan tertib, rapih, tidak ada raungan klakson ketika macet. Mungkin ini hikmah puasa, setiap orang berusaha untuk menjaga emosinya agar bisa mendapatkan semua keutamaan di bulan ramadhan ini.
Namun itu berubah drastis ketika waku berbuka semakin mendekat, setiap orang sepertinya berlomba-lomba mempersiapkan hidangan yang akan digunakan untuk melepaskan rasa lapar dan dahaga seharian. Semua jenis makanan, dari mulai yang ringan sampai yang berat kalau bisa semuanya tersedia di meja makan.
Sangat disayangkan sekali, ketika seharian emosi dan syahwat dijaga, namun terlepas seliar-liarnya ketika waktu finish tiba. walaupun kadang hal ini tidak disadari, karena hal ini sudah merasa terbiasa dilakukan diwaktu-waktu sebelumnya. padahal, kalau hal ini bisa diubah, maka mudah-mudahan apa yang dijanjikan Allah tentang keistimewaan puasa bisa kita dapatkan.
“Setiap amal kebaikan itu akan dibalasa dari 10 sampai tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Akulah sendiri yang akan membalasnya” (HR- BUKHARI MUSLIM)
di dalam kitab Ihya Ulumuddin , Alghazali mengelompokan puasa menjadi 3 macam:
1. Puasa Umum, yaitu puasa sebatas menahan laparnya perut dan menjaga farj (Kemaluan) dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa
2. Puasa Khusus, yaitu selain menahan lapar dan menjaga kemaluan , juga disertakan dengan menjaga pendengaran, penglihatan, lidah, tangan, kaki dan seluruh anggota dari melakukan yang haram atau dosa.
3. Puasa Khusus Al-Khusus, yaitu puasa dengan menyertakan semua yang tersebut di atas dan menambah lagi dengan berpuasa hati dari segala pikiran kotor dan pemikiran-pemikiran keduniaan dan selalu tertaut hatinya kepada Allah SWT.
Melihat apa yang digolongkan oleh Al-Ghazali, mungkin puasa yang kita lakukan sekarang hanya masuk kepada jenis yang pertama, dan itu pun belum tentu bisa memenuhi syarat-syaratnya secara sempurna. apalagi, sampai saat ini, secara pribadi belum bisa menahan semua semua syahwat, yang sebenarnya bukan menahan tapi mengendalikan syahwat dari hal-hal yang secara syar’iyah tidak membatalkan puasa tapi bisa mengurangi keutamaan puasa..
Yang terakhir, puasa itu adalah bagaimana mengimplementasikan sisi kesabaran dari manusia …, yang dalam sebuah keterangan, kesabaran adalah separuh dari iman, sehingga jika kita bisa lolos dalam puasa dan memperoleh derajat kesabaran yang sempurna, maka sejatinya kita sudah bisa menyempurnakan separuh dari keimanan kita.
Al-Imaanu nishfaani, nishfun fi shabri, wa nishfun fi syukri
“Iman itu terbagi 2 bagian, setengan bagian ada dalam kesabaran, dan setengahnya lagi ada dalam rasa syukur”
Wallahu ‘alam ..