Miris …..

Author:

Hanya lagi pengen nulis aja …. (miss u my blog)

Udah beberapa hari ini, or tepatnya minggu ini blog ini kontennnya tidak pernah update …

bukannya tidak ada waktu tapi memang sibuk banget perasaan …

 

But, anyway tulisan ini bukan tentang itu, cuma tentang rasa miris yang timbul akibat beberapa kali melihat kejadian yang secara nalar, pantaskah hal itu dilakukan, atau bukan pantas tepatnya, tapi apakah tidak ada cara lain yang lebih elegan …

Kejadian pertama, suatu ketika sedang duduk manis ditempat makan yang lumayan strategis dan ekonomis disekitaran setiabudi. waktu ini kalo tidak salah menunjukan jam 7.30 malam. Ketika sedang asyik menyantap makanan, tiba-tiba dari kejauhan terlihat seorang ibu, dengan dandanan yang cukup rapih, berjilbab , tidak terlihat letih berjalan dengan mengipit (atau mengetek ya ??) tas kulit sintetis dan segepok kertas yang ntah apa isinya.

setiap menemui tenda makanan yang berjejer rapih di belakang the peak sudirman, ibu tersebut masuk, bicara sebentar sambil menyodorkan kertas yang dia bawa, begitu terus sampai akhirnya giliran sampai ke tempat orang yang nulis blog ini makan. Dengan sopan si ibu tersebut mengucapkan salam, dengan tutur bahasa yang sopan dan halus si ibu tersebut berkata yang pada intinya, bagi siapa saja yang mau membantu anak yatim silahkan untuk mengisi amplop (yg tadi dikira kertas), yang dibagikan oleh si ibu tersebut. dan akupun kebagian amplop tersebut.

Amplop tersebut, pada bagian luarnya dengan jelas terlihat ada cap yang ntah apa tulisannya, karena sudah kabur akibat sudah agak leceknya amplop tersebut. Ibu tersebut kemudian berdiri sejenak, menunggu amplop tersebut dikembalikan. setelah amplop tersebut dikumpulkan semuanya oleh si ibu tadi, dengan senyuman yang terlihat tulus, sibu tersebut keluar dari tenda itu dimana aku sedang duduk.

Kejadian kedua, terjadi beberapa minggu lalu, tempatnya di kantor, di The promenade building. Hari itu dikantor sedang komplit, semua tim JWEBS lagi pada kumpul, ada rama, zaky, sandy dan aku sendiri. Ketika itu ketika sedang asyik melihat ke dinding, melihat sorotan cahaya infocus yang menampilkan gerakan-gerakan animasi yang sedang menggiring dan menendang bola A.K.A sedang maen PES, tiba-tiba, di luar terlihat ada 2 orang wanita cantik berjalan dan melihat kedalam kantor. (kantor kita itu pintunya teruat dari kaca polos, sehingga orang luar bisa melihat dengan jelas ke dalam). dengan refleks, kami berseru, wow ada pemandangan indah d luar tuh … (kekeke). Tak berapa lama, kemudian kedua wanita tersebut ternyata berjalan mendekati pintu kantor kami dan mengetuk pintu dengan sopan. lalu setelah dipersilahkan masuk, mereka dengan bas-basi yang intinya meminta sumbangan juga. akhirnya, ntah karena malu atau sensi, waktu itu kami memberikan sumbangan dengan tetap menampilakn senyuman yang dibuat sok manis … (wkwkwkw).

kejadian ketiga, terjadi tadi maghrib, sebelum kickoff malaysia Indonesia, kejadiaanya apersis seperti kejadin peratam, cuma kali ini yang datang 2 orang gadis berjilbab lengkap, dan dengan sedikit basa-basi intinya meminta sumbangan buat anak yatim.

Dari ketiga kejadian tersebut ada pola yang sama yaitu meminta sumbangan yang alasannya untuk membantu anak-anak yang kekurangan.

Yang jadi masalah adalah kok cara meminta sumbangannya jadi terkesan seperti mengemis ? sampai dor to dor kayak gitu ? apakah tidak ada cara yang lebih elegan istilahnya, biar tidak terlihat mengemis. Bukankah kita mempunyai departemen sosial yang seharusnya mengurusi hal-hal seperti ini, apakah tidak lebih baik langsung meminta bantuan ke dinsos terkait ?

Ataukah karena tipe birokrasi di Indonesia yang menyebabkan akhirnya mereka memilih terjun langsung meminta bantuan dari pada minta bantuan ke dinas terkait ? gak tahu juga apa jawabannya.

Ada masalah lain, karena pola-pola ini sering terlihat di ibu kota ini, ntah itu di bis, atau dijembatan penyebrangan busway, ada saja yang membagikan amplop untuk bantuan anak yatim, akhirnya stigma yang muncul dimasyarakat.. wahh ini sih bukan buat anak yatim, tapi pola baru mengemis. akhirnya walaupun sejatinya kegiatan tersebut memang untuk kepentingan anak-anak yatim, tapi karena stigma tersebut akhirnya mereka dikelompokan oleh masyarakat sebagai kelas pengemis, sama seperti pengemis-pengemis lain yang katanya terorganisir.

Yang membuat miris adalah ketika anak-anak juga diterjunkan untuk hal-hal seperti ini. Ada anak-anak berpeci membawa tromol didepan indomart meminta sumbangan yang juga atas nama anak yatim.

Ada yang berkata, itu sih cara baru mengemis, biar mendapatkan uang lebih banyak. tapi wallahu ‘alam, Hanya Allah yang Tahu, yang terpenting seharusnya pemerintah bisa melihat fenomena ini, dan mencari solusinya. Milyaran duit hasil pajak, daripada digunakan untuk membiayai pejabat nonton bola, mendingan digunakan untuk membiayai mereka, anak-anak terlantar yang katanya ditanggung oleh negara agar mendapatkan kehidupan dan pendidikan yang layak, sehingga cara-cara seperti “mengemis” ini bisa diminimalisir. karena secara tidak langsung, ketika anak-anak dilatih untuk “mengemis” seperti ini, selain merenggut masa anak-anak mereka, tapi juga secara langsung mendidik mereka untuk selalu bergantung kepada belas kasihan orang lain ….

 

Jakarta, 26 Des 2010

 

A. Ahmad K

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *