Mari menulis kembali …
Pernah kah kita bertanya, seperti apa cinta sejati itu, apakah ada kisah yang terjadi yang menunjukan bahwa cinta sejati itu memang benar-benar ada ?.
Didalam Al-Qur’an, kisah Nabi Yusuf AS dan Zulaikha termaktub dengan jelas, bagaimana pengorbanan keduanya sampai akhirnya Allah menyatukan mereka dalam kesempurnaan kehidupan. Jelas-jelas kisah ini pula yang banyak dijadikan sebagai referensi untuk menggambarkan bagaimana sebuah harapan, keinginan, perjuangan dan pengorbanan zulaikha untuk menggapai cinta sejati yang diidamkannya. Juga ada kasih Nabi Sulaiman AS dan Queen of Saba, yang mengilhami bahwa perbedaan suku bangsa bisa bersatu dalam murninya keagungan Anugrah Allah yang satu ini.
Bagi penggemar karya sastra renaissance, siapa yang tidak tahu kisah Romeo dan Julliet, yang digambarkan sebagai kisah cinta sejati sampai mati. kisah yang melegenda yang melambungkan nama William Shakespeare. Ataupun kisah modern antara Tarzan dan Jane, Rapunzel dan Eugene Fitzherbert, Hitler dan Eva Braun dan masih banyak kisah lainnya yang menunjukan bahwa anugerah ini bisa hinggap ke siapa saja, tanpa mengenal karakter, bangsa suku dan agama.
Namun bagi kita sebagai muslim, sebenaranya ada kisah yang paling indah yang bisa kita lihat dan teladani, yaitu kisah Junjunan kita Nabi Muhammad SAW dan Siti Khadijah RA.
Dalam Sirah Nabawiyyah, sangat jelas sekali bagaimana kisah cinta Beliau berdua merupakan kisah yang sarat dengan makna dan ibrah yang bisa dijadikan sebagai teladan dalam kehidupan sekarang, yang faktanya orang-orang semakin meremehkan arti cinta dan kesucian ikatan pernikahan sebagai sarana untuk menyempurnakan kehidupan.
Cinta sejati antara beliau berdua adalah cinta yang terus abadi dalam kehidupan yang diikat dalam tali pernikahan yang berlandaskan atas kecintaan mereka kepada Sang Pemilik Cinta yaitu Allah ‘Azza Wa Jalla. Walaupun salah satu meninggal, namun cinta sejati ini terus saja abadi.
Siapa yang tidak tahu pengorbanan Khadijah dalam mendampingi Rasullah SAW dalam menyebarkan agama Allah, Mengorbankan Seluruh Hartanya, dan siap menjadi tameng bagi Rasul untuk melindungi Beliau dari marabahaya yang dibuat oleh Kafir Quraisy.
Sehingga, Ketika Khadijah RA kembali ke haribaan Ilahi, Rasulullah sangat terpukul, bahkan ini juga yang menyebabkan kenapa pada tahun tersebut, disebut sebagai “tahun kesedihan”.
Dalam sebuah keterangan, disebutkan setelah setahun Siti Khadijah, datang seorang perumpuan Shabiyah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, mengapa engkau tidak menikah ? Engkau memiliki 9 keluarga dan harus menjalankan seruan besar”. Sambil menangis Rasulullah SAW menjawab ,”Masih adakah orang lain setelah Khadijah?”
Pada masa Futuh Makkah, orang-orang berkumpul di sekeliling Beliau, sementara orang-orang Quraisy mendatangi Beliau dengan harapan Beliau mau memaafkan mereka, tiba-tiba Beliau melihat seorang wanita tua yang datang dari jauh. Beliau langsung meninggalkan kerumunan orang ini. Berdiri dan bercakap-cakap dengan wanita itu. Beliau kemudian melepaskan jubah Beliau dan menghamparkannya ke tanah. Beliau duduk dengan wanita tua itu.
Siti Aisyah RA bertanya, “Siapa wanita yang diberi kesempatan, waktu, berbicara, dan mendapat perhatian penuh Nabi Saw ini?”
Rasulullah menjawab, “Wanita ini adalah teman Khadijah.”
“Kalian sedang membicarakan apa, ya Rasulullah?” tanya Aisyah
“Kami baru saja membicarakan hari-hari bersama Khadijah.”
Mendengar jawaban Beliau ini, Aisyah pun merasa cemburu. “Apakah engkau masih mengingat wanita tua ini (Khadijah), padahal ia telah tertimbun tanah dan Allah telah memberikan ganti untukmu yang lebih baik darinya?”
“Demi Allah, Allah tidak pernah menggantikan wanita yang lebih baik darinya. Ia mau menolongku di saat orang-orang mengusirku. Ia mau mempercayaiku di saat orang-orang mendustakanku.”
Aisyah merasa bahwa Rasulullah Saw marah. “Maafkan aku, ya Rasulullah.”
“Mintalah maaf kepada Khadijah, baru aku akan memaafkanmu.” (Hadits ini diriwayatkan Bukhari dari Ummul Mukminin Aisyah)
Lihatlah betapa besarnya cinta Rasullah kepada Khadijah, sehingga seandainya beliau Tidak diperintahkan oleh Allah untuk menikah, niscaya beliau tidak akan menikah kembali.
Yang jadi pertanyaan kembali, bagaimana hal ini bisa terjadi ? Perlu dipahami, karena cinta ini tidak pernah didahului hubungan haram dan karena ketaatan kepada Allah menjadi dasar dalam rumah tangga ini. Rumah tangga yang selalu dihiasi dengan dzikir kepada Allah, bukan rumah yang digunakan sebagai tempat menyemai benih-benih yang bisa menjerumuskan manusia kepada kenistaan akibat godaan syaitan yang terkutuk.
Coba bayangkan, betapa indahnya rumah tangga, jika ketika sepertiga malam menjelang, suami istri saling membangunkan untuk mengingat kepada Allah, melakukan Shalat Tahajud berjamaah, melakukan muhasabah bersama-sama, saling mengingatkan untuk selalu melalui jalan yang lurus. dilanjutkan dengan Tadarus Al-Qur’an sampai shubuh menjelang.
Betapa indahnya kehidupan jika hal ini bisa diwujudkan …
Jakarta, 6 Desember 2010
A. Ahmad Kusumah
