Creative ideas driven, the novel ways of thinking in organization ….

Author:

(ilustration , published by harper.org)

Ada ungkapan menarik yang dikutif dari bukunya John Howkins, creative ecologies :

“The main question of our age is how we live our lives, as we strugle with this, we face other questions. How do we handle ideas and knowledge, both our own and other people’s? What relationship to ideas do we want? Where do we want to think? “

Secara ekplisit, dari kutipan tersebut ada sebuah opini bahwa untuk survival dan mencapai keberhasilan dibutuhkan kemampuan untuk selalu menghadirkan ide-ide baru baik yang bersumber dari internal maupun dari luar, serta mampu untuk mengkolaborasikannnya sehingga bisa menghasilkan sesuatu yang bisa dijadikan sebagai new competitive advantages.

Hal ini semakin menarik untuk diterapkan, karena trend pertumbuhan industri dan ekonomi sekarang lebih dipengaruhi oleh ide-ide dan inovasi baru ketimbang kemampuan kapital yang besar. Paradigma di dunia bisnis sedikit demi sedikit bergeser, bahwa kreatifitas yang dimiliki
oleh sebuah organisasi atau individu merupakan modal untama untuk mencapai kesuksesn. alasan sederhananya adalah ide seperi kuman yang bisa menjangkiti siapa saja tanpa pandang bulu, dan bisa menyebar dengan cepat, apalagi sekarang didukung oleh sarana informasi yang hampir selalu real time, borderless.

ketika ide tersebut diterima oleh masyarakat banyak, maka potensi ekonomi yang dimiliki akan sangat besar. contoh sederhana, adalah ide menggabungkan kemapuan telephone dengan organizer dan office aplikasi yang menyebabkan booming smartphone. siapa yang tidak kenal blackberry, iphone, nokia, samsung, yang ramai-ramai mengeluarkan produk-produk smartphone unggulan. dan bisa kita lihat, kemampuan positioning dan segmentasi pasar adalah hal utama dalam keberhasilan utama, seperti iphone yang menerapkan ide sebagai sarana komunikasi hiburan, atau blackberry sebagai sarana komunikasi corporate, menyebabkan mereka menjadi salah satu leading company di segmentasi pasar yang mereka ciptakan lewat ide-ide yang mereka keluarkan lewat tagline dan jajaran produk mereka.

Dari hal-hal tersebut, maka muncullah istilah ekonomi kreatif, yang bisa dikatakan sebagai calon suksesor dari ekonomi industri. dalam ekonomi kreatif, talenta-talenta,kemampuan atau ide-ide individu merupakan input utama. Ide-ide ini bisa berupa ide yang sudah sangat familiar, atau ide-ide yang bersifat sangat baru atau bahkan mendobrak kebiasaan, yang terpenting adalah bahwa output yang dihasilkan dari input-input ini harus dibuat sedemikian sehingga terlihat baru dan orisinalitasnya sangat tinggi.
Lihatlah contoh besarnya facebook. inputnya adalah ide jejaring sosial, tapi mengapa facebook bisa leading ? dan mengapa friendster yang nota bene
tenar lebih dulu malah semakin redup ?

Namun ide dan kreativitas saja tidak cukup. dalam ruang lingkup organisasi harus imbangi oleh  kemampuan sebagai eksekutor dan monitor. karena kalau ide tanpa eksekusi tidak akan menghasilkan apa-apa, atau hanya sedikit sekali hasil yang bisa didapatkan. untuk terjun dan bisa survive dalam mengadopsi konsep creative industrry sebagai efek langsung dari pemikiran creative economy, maka di dalam sebuah oragnisasi harua minimal ada 4 peran yang berbeda:

  1. Inventor : adalah bagian yang bertugas untuk menciptakan ide-ide baru untuk yang bisa digunakan oleh organisasi
  2. Konseptor : adalah bagian yang bertugas untuk mengarahkan ide-ide inventor agar sesuai dengan tujuan organisasi
  3. Eksekutor : adalah bagian yang bertanggung jawab untuk mengimplemntasikan ide-ide yang dihasilkan oleh bagian inventor yang telah disetujui oleh bagian konseptor
  4. Monitor dan evalutor : adalah bagian yang bertanggung jawab untuk memonitor pelaksanaan tugas masing-masing bidang yang lain, dan melakukan evaluasi untuk perbaikan pada siklus berikutnya.

Ke empat bagian itu, adalah minimal yang harus ada disebuah organisasi jika ingin tetap bisa survive dalam lingkungan creative economy. jika salah satu saja tidak ada, maka kemungkinan besar oraganisasi tersebut tidak akan bisa bertahan lama.
sebagai contoh, sebuah organisasi memiliki seorang konseptor dan inventor ulung, yang mampu menangkap peluang-peluang dan ide baru. namun jika tidak didukung oleh eksekutor dan monitor yang baik, maka kemungkinan itu hanya sebatas ide atau hasil akhirnya hanya sebuah dokumen saja, tidak lebih.

Penutup, creative economy adalah sebuah ide yang memungkinkan sebuah organisasi yang berkapital pas-pasan  memiliki kesempatan untuk berkembang sama besarnya dengan oragnisasi yang mempunyai kapital yang besar.

Jakarta, 3 Desember 2010

A. Ahmad Kusumah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *