Perbedaan Konsultan dan Praktisi, sebuah opini

Author:

Lanjut nulis lagi ….

Ide tulisan ini timbul setelah diskusi yang cukup asyik bersama saudara Sandy Wibisono, sebagai salah seorang shareholder JWebs, dan Pak Sur yang seorang yang sangat berpengalaman dibidang consulting. (22 november 2010).

Yang jadi concern hasil diskusi tersebut adalah, mengapa perusahaan yang bergerak dibidang consulting dan services banyak yang kolaps, atau mengalami gangguan akibat kesalahan strategi dan management yang ironisnya adalah sesuatu yang mereka jual ke client. Apanya yang salah ? salah sistemnya kah ? atau karena kesalahan individu yang terlibat di sistem tersebut ?.

Berhubungan dengan hal tersebut, terbersit sebuah pertanyaan yang cukup menarik, apakah mereka gagal menerapkan strategi dan management karena mereka bukan seorang praktisi, yang akhirnya mereka hanya bisa memberikan petunjuk dan pertimbangan bagi orang lain, sedangkan diri mereka sendiri gagal menerapkannya. wah bakal lebih seru kalau dilanjutkan nih …

Sebelum masuk ke ranah analisis yang mungkin masih immature, mari kita lihat definisi dari konsultan dan praktisi.

Menurut kamus, bahasa indonesia,

Konsultan adalah ahli yg tugasnya memberi petunjuk, pertimbangan, atau nasihat dalam suatu kegiatan (penelitian, dagang, dsb); penasihat.

Paktisi didefiniskan sebagai pelaksana atau orang yang biasa melaksanakan.

Dari definisi terlihat jelas, bahwa seorang Konsultan adalah seseorang yang tugas utamanya adalah memberikan pertimbangan terhadap kebijakan atau malah menyerankan sebuah kebijakan dalam suatu kegiatan pun organisasi. bisa dikatakan seorang konsultan adalah seorang staff ahli, sebagai “Orang Pintar” yang sering dijadikan tempat untuk bertanya. Dalam prakteknya, seorang konsultan tidak dituntut memiliki pengalaman melakukan apa yang dia sarankan, yang penting saran yang dikeluarkan acceptable dan bersifat menguntungkan dari sisi kebijakan strategis. Yang mungkin jadi pra Syarat utama seorang konsultan adalah memiliki pengetahuan yang cukup sebagai justifikasi terhadap saran-saran yang dia keluarkan.

Sebagai tambahan, menurut Bapak Riri Satria (http://ririsatria40.wordpress.com/2010/11/13/anda-masih-butuh-konsultan/) dalam tulisannya, “konsultan itu dibutuhkan bukan hanya karena kompetensi mereka (akumulasi pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan) tetapi juga karena posisi mereka yang dianggap netral sebagai orang luar sehingga diharapkan sanggup melihat persoalan secara jernih di dalam sebuah perusahaan karena mereka tidak punya kepentingan.”

Namun ada penyakit yang mungkin dimiliki oleh sebagian konsultan, yaitu bahwa mereka merasa lebih mampu dan lebih kompeten  dalam hal tertentu sehingga memiliki kecenderungan untuk memaksakan apa yang mereka ketahui kepada client. Bagi client yang masih “polos”, hal ini mungkin bisa berhasil, tapi untuk client yang memiliki background knowledge yang cukup baik, hal ini bisa menjadi senjata makan tuan, bahkan proyek tersebut bisa gagal total, karena tarik menarik antara ego konsultan dengan keinginan pemilik proyek, padahal yang paling mengetahui kebutuhan dan keadaan internal pemilik proyek, ya pemilik proyek itu sendiri. (lihat bahasannnya di sini).
Untuk Praktisi sendiri, sesuai dengan definisi adalah pelaksana atau orang yang biasa melaksanakan. Bahkan banyak seorang praktisi yang sangat berpengalaman dibidang tertentu bisa menjadi seorang konsultan yang sangat handal, karena pengetahuan lapangan yang mereka miliki yang kadang tidak dimiliki seorang konsultan yang backgroundnya bukan seorang praktisi. lihatlah Warren Buffet, Bob sadino, Ono W Purbo, adalah orang-orang yang berlatar belakang praktisi yang menjelma menjadi panutan dibidangnya masing-masing, dan pendapatnya banyak diikuti oleh banyak orang. bisa dikatakan, mereka adalah konsultan sekaligus praktisi yang sangat berhasil.

Konsultan-konsultan yang bergerak dari seorang praktisi mayoritas bisa lebih berhasil dalam implementasi saran-sarannya di perusahaan atau tempat-tempat yang memerlukan perbaikan atau pengembangan organisasinya, karena apa yang mereka sarankan berdasarkan pengalaman-pengalaman dilapangan yang kadang tidak didapatkan dibangku pendidikan.

Kembali kepada topik utama tulisan ini, banyaknya perusahaan consulting yang kolaps, berdasarkan analisis uraian diatas, adalah karena mereka tidak mampu mempraktekan apa yang mereka ketahui dan mengejawantahkannya  diinternal perusahaan mereka sendiri.

jadi intinya …

Tidak setiap konsultan bisa jadi praktisi, namun Setiap Praktisi kemungkinan besar bisa menjadi konsultan yang berhasil …

 

Jadilah seorang Konsultan yang berjiwa Praktisi ….

 

Jakarta, 23 November 2010

 

Aah Ahmad Kusumah

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *