(ilustrasi courtesy ofย multiply.com)
Ada yang bilang,
“jika kita melakukan sesuatu hal melampaui batas, malah yang akan kamu dapatkan adalah sebaliknya.”
“Siapa saja yang menyegerakan sesuatu sebelum waktunya, pada akhirnya dia hanya akan mendapatkan sesuatu yang kosong saja”
Pernahkah kita menyanjung orang ? atau pernahkan kita memuji seseorang atas prestasinya ? atau pernahkah menjenguk orang yang sakit dan menghiburnya ?
Dari ketiga pertanyaan tersebut ada 2 aspek yang berbeda, yang bisa kita tinjau:
Yang pertama, masalah memuji atau memberikan apresiasi. pada dasarnya, memuji sesorang adalah hal yang wajar-wajar saja,ย sebagai bentuk penghargaan terhadap apa yang telah dia capai. Namun perlu diingat, janganlah memberikan apresiasi sehingga seakan-akan terlalu hiperbolis. sekali dua kali kita mengatakan hal tersebut, pada orang tersebut, kemungkinan dia akan merasa bangga dan merasa dihargai, namun jika keterusan dan terkesan hiperbolis, maka ada kemungkinan dia malah menganggap kita menjelek-jelekannnya.
Contoh sederhana,
Ada seorang mahasiswa fisika, yang kesehariannya biasa-biasa saja, dalam hal akademis tidak terlalu menonjol. Pada suatu ketika, ketika mengikuti ujian mekanika kuantum yang terkenal sangat jlimet dan sangat sulit, dia mendapatkan nilai yang sangat mengagumkan, 99 dari skala 100. Seorang temannya, langsung memujinya, ” wah kamu, pintar banget, bisa dapat nilai nyaris sempurna dalam mata kuliah ini”. Si mahasiswa tersipu dan menjawab, ” ahh, biasa saja, mungkin lagi beruntung saja, saya menghapal bagian yang keluar di ujian.” lalu pada kesempatan lain, Seorang temannya ada memuji dia lagi, ” Wah, pintar sekali kamu, einstein aja kalah sama kamu, einstein perlu puluhan tahun untuk memahami mekanika kuantum , kamu cuma semalam saja, kereenn”. Namun si mahasiswa tadi bukannya senang malah marah.
Coba lihat , apa yang beda antara pujian yang pertama dan pujian yang kedua ?? dan mengapa reaksinya bisa berbeda ??
Yang kedua, masalah menyegerakan sesuatu sebelum waktunya, atau memberikan sesuatu sebelum waktunya atau tidak tepat pada waktunya. Kejujuran adalah sesuatu yang diperintahkan dan menjadi salah satu nilai lebih bagi seorang manusia. namun kejujuran juga harus melihat waktunya, ada kalanya kejujuran itu harus kita sembunyikan.
Sebagai contoh sederhana.
Ada seorang laki-laki menjenguk temannnya yang sedang sakit tipus. Dengan membawa sekeranjang buah tangan (buah-buahan) dia masuk ke dalam kamar perawatan si sakit. kemudian, dia berbicara kepada yang sedang sakit ” Oh, mukamu pucat sekali, matamu menguning, bibirmu kering , dan penglihatanmu terlihat tidak fokus”. Coba kita renungkan, pantaskah kita mengatakan hal tersebut kepada orang yang sedang sakit ? dilihat dari segi kejujuran tidak ada yang salah, memang begitulah keadaanya, namun ditinjau dari sisi psikologis, apa yang diucapkan laki-laki tersebut malah akan menyebabkan semangat sembuh si sakit semakin drop, dia mungkin akan berpikir, ” benarkah saya sudah separah itu ?”.
ada lagi sebuah kisah yang diambil dari Istamti bi hayatik .
Ada seseorang yang mengunjungi seorang temannnya yang memang lagi sakit dengan penyakit yang cukup berbahaya. dia kemudian bertanya kepada si sakit, penyakitnya apa. setelah dijawab oleh si sait, si penjenguk tadi berkata “Ohh, penyakit ini pernah diderita si anu, dan akhirnya seminggu setelah dirawat dia meninggal dunia. Penyakit ini pula pernah diderita oleh teman saudaraku, dan kemudian dia meninggal juga”.
Coba renungkan lagi, pantaskah si penjenguk berkata hal demikian ?? walaupun apa yang dia akatakan itu benar ??
Ada kisah lainnya.
Ada seorang laki-laki menaruh hati pada seorang wanita. Bertahun- tahun dia memendam perasaan tersebut, dan tidak berani mengungkapkannya atau tidak mau berkata jujur kepada wanita tersebut bahwa dia menyukainya. Suatu ketika, ketika dia udah merasa siap, dengan berani dia berkata, gw harus jujur atau tidak sama sekali.
Dengan semangat 66, dia datang kerumah wanita tersebut, setelah memberikan salam, dia langsung berkata pada wanita tersebut. “teh, saya suka sama kamu. mau gak nikah sama saya”.
Namun apa yang terjadi, dia malah digebukin orang banyak. kenapa bisa terjadi begitu ? karena dia berkata ketika wanita tersebut lagi melakukan akad nikah dengan calon suaminya …. (… kisah ngelantur … ๐ ๐ :D)
Jadi kesimpulannya ,
Katakanlah sesuatu pada tempat dan waktu yang tepat, serta jangan berlebihan.
(jujurlah ketika saatnya memungkinkan….) ๐
Jakarta, 17 Desember 2010
A. Ahmad Kusumah