Chapter 1 : Ketika Debu Itu Berkumpul

Author:

Iring-iringan kendaraan itu bergerak menyusuri jalanan yang sempit yang dihiasi teriakan bocah-bocah kecil berlarian, berseliweran seperti kupu-kupu yang baru keluar dari tunasnya. 1,2,5 ada 5 kendaraan yang berbeda merek dan bentuknya dengan tertib antri berbanjar seperti barisan pengibar bendera. yang sama diantara kelima kendaraan tersebut adalah raut muka
penumpangnya, berseri-seri walau berdesak-desakan dalam kendaraan jadul non AC keluarn 90-an itu. Keringat yang menetes dan mengalir dari kelenjar kulit akibat kepanasan seakan tidak mereka rasakan, hanya kebahagiaan yang terpancar diwajah-wajah lugu mereka. sesekali untuk
menunjukan kesenangan tersebeut bersama-sama mereka bersenandung shalawat badriyyah, seperti sering di dendangkan saaat peringatan maulud Nabi SAW.

Menjelang sebuah tikungan, kendaraan terdepan dari rombongan tersebut berhenti di sebuah gapura buatan yang berhiaskan bunga dan sebuah tiang melengkung yang ujungnya terdapat sebuah rangkaian daun kelapa muda berwarna kuning keemasan yang memancarkan aura kebahagiaan bagi siapa saja yang menengok ke dalam ruangan yang dibatasi oleh gapura tersebut. Perlahan tapi pasti, semua iring-iringan itu berhenti, berbaris rapi menunggu komando berikutnya yang diisyaratkan oleh pemimpin rombongan tersebut.

Kreeeeeet, suara pintu kendaraan paling depan terbuka, dan dengan sedikit bergetar, karena lamanya perjalanan yang ditempuh, keluarlah sesosok pria sepuh, bersorban putih, dengan muka yang kelihatan lelah namun senyumnya menghilangkan kesan semua hal yang biasanya nempel di wajah orang yang kecapean. Laki-laki sepuh itu, perawakannya tidak terlalu tinggi, dengan badan agak montok, janggut yang sudah berwarna perak, namun raut mukanya terlihat selalu menyenangkan bagi orang yang melihatnya, dengan langkah yang tegap, berjalan menuju ke depan gapura, dan memberikan isyarat kepada para pengiring yang ada didalam kendaraan untuk segera mengikuti beliau.

Setelah semuanya dirasa siap, laki-laki sepuh tersebut, dengan suara yang berkharisma mengucapkan salam, ” Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wa Baarakaatuhu “. Dengan serempak, orang-orang yang sejak kedatangan rombongan tersebut berkumpul didekat gapura tersebut, menjawab salam ” Wa’alaikum salam warahmatullaahi wa baarakaatuhu”. Salah satu dari mereka, yang sepertinya pengatur acara di dalam ruangan tersebut, memberikan Isyarat kepada kelompok Nasyid yang sepertinya sudah disiapkan jauh-jauh hari untuk mendendangkan lantunan sholawat yang berisikan ucapan penghormatan dan selamat datang kepada para tamu yang baru saja datang. Maka bergemalah, untaian nada acapela dari kelompok nasyid tersebut, yang dengan serempak diikuti oleh semua orang yang ada.

Dan ketika itu juga, pembawa acara mempersilahkan masuk seluruh rombongan untuk memasuki tempat yang telah disediakan,

“Silahkan masuk bapak dan ibu,untuk bapak silahkan menempati tempat disebelah kiri, dan ibu disebelah kanan”

” Selamat datang di tempat yang sederhana ini, kami sebagai wakil dari Shoohibul bait mohon maaf jika sekiranya tempat yang kami sediakan alakadarnya”, kata si pembawa acara melanjutkan.

Dengan tertib, setiap orang menyalami tamu yang baru datang, dengan pengecualian, tidak terlihat adanya jabat tangan antara tamu wanita dan laki-laki, begitupun sebaliknya.

Dan ditengah kerumunan tamu tersebut, ada seorang pemuda berbadan gelap, dengan muka yang kelihatan gugup, memakai jas hitam belel, berselendangkan sarung dengan dandanan yang terlihat seadanya, terlihat mengapit seorang pemuda lainnya yang dandanannya lebih necis dengan jas yang rapi, sepatu mengkilap dan senyuman yang selalu menghiasi wajahnya.

Amran, ya, Amran nama pemuda berbaju belel tadi, sedangkan pemuda yang berbaju necis tadi bernama Subhan, Subhan Syukroni lengkapnya.

================================****==============================

“Amran, Amran, cepet mandi !!!, sudah dzhuhur, cepetan abah kamu udah menunggu dimasjid tuh”

teriak seorang wanita sambil mengacungkan tangannya, memanggil seorang remaja kurus dengan kulit hitam legam akibat sering terpapar sinar matahari.

“Iya ummi, bentar lagi ini tanggung”, jawab Amran sambil terus saja menarik-narik benang layangan, tanpa melihat ke arah wanita tersebut yang ternyata ibunya.

“Amran, cepet, nanti abah kamu marah lagi ..!!!!!, mau kamu di tajir (di pukul telapak kaki oleh rotan) lagi seperti kemarin !!!!”

“Iya ummi, ini juga mau udahan”, kata Amran sambil memasang muka kurang senang karena kegiatan maen layangannya terpaksa harus dihentikan, padahal lagi-rame-ramenya, saling incar dengan teman-teman sebayanya untuk memutuskan layangan lawannya.

Dengan cepat Amran menarik benang dan menggulungnya ke kaleng bekas cat yang di uabh sedemikian rupa sehingga bisa digunakan sebagai gulungan benang layangan. setelah selesai dengan setengah berlari, Amran menuju Ibunya dan mengambil handuk serta peralatn mandi yang sudah dibawa oleh ibunya.

Siang itu, seperti siang-siang sebelumnya, setelah shalat Dzuhur, Amran duduk di madrasah disamping masjid, dengan membuka kitab kuning yang sudah kucel, dan dengan semangat, dia mudzakarah (menghapal kembali) pelajaran ilmu fikih hari sebelumnya yang diajarkan oleh Abahnya. Namun sebenarnya, dia menghapal bukan karena rajin, namun takut dinasehatin abahnya, yang menurut dia seperti mengomel, parah-parahnya, kalo tidak hapal bagian sebelumnya, bisa-bisa di suruh terus menghapal sampe Ashar tiba.

Dengan cermat Amran membaca kitab Safiinatun Najah , kitab fikih klasik yang banyak digunakan untuk mengenalkan tatacara ibadah dan hukum fikihnya yang berlandaskan madzhab Asy-Syaafi’i. Ketika sedang asyik membaca tersebut, datanglah seorang lelaki berumur sekitar 40-an tahun, dengan pakaian yang rapi, berbaju kemeja, dan bersarung, dengan peci hitam yang terlihat pas sekali menghiasi kepalanya yang ditumbuhi rambut yang sudah mulai ada warna peraknya. Wajahnya yang terlihat keras dengan beberapa kerutan dan warna hitam dikeningnya yang menandakan laki-laki tersebut sering bersujud berserah diri kepada Allah SWT, disetiap hari yang dilaluinya. Ketika lelaki itu datang, dengan segera Amran menghentikan mudzakarah nya, dan bersiap dengan sigap merapikan duduknya.

“Sudah mudzakarahnya Amran ?”, tanya lelaki tersebut setelah duduk di depan Amran.

‘Sudah Abah”, jawab Amran, menjawab pertanyaan laki-laki yang ternyata Abahnya tersebut.

Nuruddin nama laki-laki tersebut, dialah Ayah kandung sekaligus guru ngaji bagi Amran. Abah Nuruddin, pada masa mudanya adalah laki-laki yang giat dan rajin serta tampan. Hal itu terlihat dari otot-otot tubuhnya, dan raut mukanya. Seperti halnya Amran, Abah nuruddin juga pada masa kecilnya langsung dimasukan ke pesantren oleh Ayahnya. Entah berapa pondok pesantren yang dia datangi selama kurun waktu 15 tahun lebih semenjak umurnya 9 tahun untuk menimba ilmu agama, sampai akhirnya dia menikahi Ummi Kurniasih pada umur 24 tahun, salah satu puteri guru abah Nuruddin. pada tahun kedua pernikahannya dengan Ummi, lahir lah Amran sebagai anak pertama laki-laki di keluarga tersebut.

Abah Nuruddin adalah laki-laki yang keras kepada anak-anaknya, kalau menyangkut masalah kewajiban terhadap agama. Pernah sekali waktu Amran di tajir, sampai hampir tidak bisa jalan, karena tidak melakukan shalat dzuhur karena keasyikan maen bola. pernah juga sekali waktu, di guyur air sumur malam-malam, sampai amran menggigil kedinginan, karena tidak mengikuti pengajian akibat nonton layar tancep dikampung sebelah.

Namun walaupun keras, abah nuruddin sangat sayang kepada anak-anaknya. Walaupun dia seorang petani pekerja keras, dia tidak pernah menyuruh anak-anaknya termasuk Amran untuk mengikuti dia bahkan maminta bantuannya untuk mengolah sawah dan kebunnya. Abah nuruddin, malah lebih senang kalau anak-anaknya sekolah dengan giat, ikut pengajian, belajar fikih dan hal-hal yang berbau pengetahuan. Alasannya sangat sederhana, dia hanya ingin anak-anaknya lebih maju dari dirinya, dia ingin anak-anaknya menjadi manusia yang bisa mengimbangi jaman, tidak tertinggal seperti dirinya.

Pernah suatu ketika, Amran dinasehi oleh Abah Nuruddin,

” Amran, kamu tahu, abahmu ini bukan orang yang kaya, abah nanti tidak bisa mewarisimu harta, yang abah bisa wariskan kepada kamu hanya harapan dan ilmu pengetahuan. makanya kamu harus rajin belajar, sekolah, mengaji. itu semua buat masa depan kamu. Abah tidak ingin kamu menjadi seperti abah yang hanya berpendidikan sampai SD, abah ingin kamu menjadi insinyur. Abah, tidak ingin balasan apa-apa dari kamu, abah tidak ingin nanti kamu memberikan harta kepada abah, hanya satu yang abah inginkan dari kamu, jadilah anak yang sholeh, jangan sombong, ingat selalu Allah yang menciptakan kita, ingatlah bahwa semuanya akan kembali kepada-Nya. tidak ada guna harta, yang akan menemani kamu kelak, hanya amal sholehmu, Ilmu yang bermanfaat serta tabungan anak kamu yang sholeh, yang semoga kelak selalu mendo’akan kamu”.

continued ……..

A. Ahmad K

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *