Judulnya dibikin biar kerenan dikit …
Tulisan ini dibuat setelah obrolan dengan salah seorang temen, awalnya cuma bicara seputar pengalaman how to change bad habit into good ones .. (thx Ran) …
Dimulai dengan istilahnya. secara definitif, habit atau kebiasaaan menurut kamus adalah “Pattern of action that is acquired and has become so automatic that is difficult to break (Webster Dictionary)”. atau secara sederhananya, kebiasaan adalah suatu bentuk pola pekerjaan yang dilakukan berulang-ulang, sering dilakukan dan merasa bahwa itu dibutuhkan, sehingga secara lambat laun menjadi sesuatu yang otomatis berjalan sehingga sangat sulit di tinggalkan. dari definisi ini, kebiasaan memiliki beberapa ciri utama, yaitu :
- Sering dilakukan
- Dibutuhkan
- Dilakukan secara otomatis, baik secara sadar ataupun tidak sadar
- sangat sulit untuk ditinggalkan
Habit ini sifatnya umum, bisa bersifat personal ataupun bersifat organisasional (massive). Yang akan dibahas disini hanya bad habit, atau kebiasaan yang jelak saja, dan tulisan ini hanya akan fokus di how to turn bad habits into good ones. beberapa contoh habit yang kurang baik diantaranya :
- Kebiasaan merokok
- kebiasaan begadang
- sering terlambat
- perfeksionis
- menyumpahi
- mengumpat
- berbohong
- suka menginterupsi ketika orang sedang bicara
- dan masiiiih banyak lagi
kelanjutannnya, bagaimana cara mengubah semua itu menjadi sesuatu hal yang positif dan baik ?. mari kita tinjau dari sisi change management.
Secara singkat, change management bisa di gambarkan sebagai suatu siklus yang tiap iterasinya selalu dilakukan improvement untuk menambal kekurangan yang ditemukan pada iterasi sebelumnya. kalo digambarkan akan seperti ini siklusnya :
Dari gambar diatas ada 3 faktor yang berperan dalam perubahan, yaitu people, proses dan tool (alat bantu). dan ketiga faktor ini saling beririsan dan memiliki keterikatan yang sangat erat yang sangat menentukan apakah perubahan yang dilakukan itu bisa berhasil atau tidak.
Namun adakalanya, walupun usaha sudah maksimal, tetap saja ada hambatan. Hambatan utama dari proses perubahan secara garis besar bisa ada beberapa faktor, diantaranya:
- Self awareness
- Social awareness
- Apatisme
- Self management
- social skills
- Pemberontakan
kita bahas satu persatu:
Self Awareness mengutip dari tulisan Bapak Riri Satria didefinisikan sebagai kemampuan untuk memahami diri sendiri termasuk paradigma atau pemahaman diri sendiri. dalam artian bahwa kita harus bisa menyadari apakah apa yang menjadi kebiasaan kita ini berdampak buruk atau baik, baik itu bagi diri sendiri atau bagi orang lain. ketika kesadaran ini tidak terbentuk maka akan sangat sulit untuk bisa lanjut ke tahap selanjutnya. kenapa bisa begitu, yah secara logika aja, ketika kita tidak menyadari bahwa sesuatu itu berbahaya, apakah kita akan meninggalkannya ? tentu tidak kan atau sangat sulit lah, butuh effort yang sangat besar. Namun self awareness ini saja ternyata tidak cukup, harus dilengkapi dengan faktor yang lainnya, karena jika hanya faktor ini saja yang tumbuh, maka diyakini tidak akan berhasil proses perubahannya. contoh sederhana, apakah perokok sadar bahwa merokok itu berbahaya ? tapi kenapa mereka tidak berhenti merokok ? hehehe, cari sendiri jawabannya ya ….
Social awareness adalah kemampuan untuk memahami lingkungan sosial termasuk kebiasaan dan sistem nilai lingkungan kita. dalam artian bahawa selain kita memahahi dan mengerti keadaan diri sendiri, ternyata kita juga sangat harus bisa memehamai keadaan lingkungan sosial dimana kita berada. secara sederhananya, dimana langit dipijajk, disitu langit dijunjung, kita harus bisa menghormati keadaan dan aturan-aturan yang ada ditempat lingkungan kita tinggal. Hal ini merupakan faktor yang sangat penting untuk melengkapi self awareness. contoh sederhananya, kita menyadari bahwa merokok itu berbahayam dan kita juga tahu bahwa lingkungan sosial kita juga menganggap bahwa rokok itu berbahaya, sehingga kalo kita merokok secara langsung atau tidak langsung akan mendapatkan penolakan atau resistensi dari lingkungan kita. nah ketika keadaan ini terjadi, maka secara sadar kita akan dipaksa untuk tidak merokok. namun apakh ini sudah cukup, ternyata tidak.
Apatisme dalam artian kita tidak peduli terhadap diri dan lingkungan sosial kita. faktor ini bisa dikatakan sebagai counter terhadap faktor self dan social awareness. ketika kita sudah sadar bahwa merokok berbahaya bagi diri dan lingkungan namun kita tetepa merokok, berarti kita bersifat apatis, biarin deh gapapa gw merokok, yang penting gw seneng … lha ini apa ?
Self Management merupakan hal yang penting juga. faktor ini diartikan sebagai kemampuan untuk memanajemeni tindakan sendiri. artinya apakah kita mampu untuk mengontrol tindakan yang kita lakukan. kita sadar akan diri dan lingkungan, kita juga tidak apatis, tapi apakah kita mampu meredam keinginan untuk merokok tersebut, apakah kita mampu mengendalikan diri kita untuk tidak melakukan hal-hal yang mendorong kita menjadi perokok ??
Social skills diartikan sebagai kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain atau masyarakat pada umumnya. dalam kaitannya dengan contoh ini berarti apakah kita mampu memberikan pengertian kepada lingkungan sekitar bahwa kebiasaan merokok kita ini susah dihilangkan, dan mohon kepada mereka untuk mengingatkan kita sehingga bisa mencegah perilaku yang bisa mendorong melakukan proses menghisap rokok.
Pemberontakan dalam artian adanya keinginan pada diri untuk menjustifikasi apa yang kita lakukan itu benar, walaupun kita sadar bahwa apa yang kita lakukan itu salah. kita sadar bahwa merokok itu buruk bagi diri dan lingkungan, namun ada justifikasi dari diri bahwa kita merokok kan agar kita bisa kuat begadang, kuat melakukan aktivitas. wah ini yang berbahaya. sikap pemberontakan ini yang kadang menjadi pemicu utama gagalnya usaha yang telah kita rintis untuk melakukan perubahan.
Apabila kita mampu menggabungkan ke enam faktor ini, maka Insya Allah, proses perubahan menuju kebaikan yang kita lakukan akan berhasil dengan sukses. tentu saja harus tetap dilakukan secara terus menerus siklusnya agar selalu bisa dilakukan evaluasi untuk improvement, karena pada siklus pertama mungkin saja tidak maksimal dan tidak optimal.
Catatan :
– mohon maaf bagi perokok karena contohnya memakai kasus merokok (no offense) hehehehe
– To Rani, terima kasih atas idenya
– To Pak Riri Satria, terima kasih atas kutipannya
Jakarta, 9 Desember 2010
A. Ahmad Kusumah
thanx buat sharing nya ah….good one.mdh2an bisa diterapkan jadi bnr2 bad habit turns into a good ones.:) saya jg lagi perlu ini.nuhun,
Btw, mdh2an temennya bisa berenti merokok jg.hehehe….
Sama-sama, semoga bermanfaat …
Iya, semoga temenku itu sadar tidak merokok lagi … xixixixix
great notes!
terima kasih pak … 🙂