Tugas Paper
Data Mining Dan Business Intelligence
Dosen : Yudho Giri Sucahyo Ph.D
Aah Ahmad Kusumah (0806 482 863)
I. Pendahuluan
Perkembangan dunia industri dalam beberapa tahun ini semakin pesat. Perubahan orientasi dunia industri dari yang asalnya menganut konsep industrial economy sampai tahun 90-an, perlahan tapi pasti mulai bertransformasi ke arah networked economy. Salah satu ciri dari networked economy yang paling menonjol adalah semakin besarnya peran informasi. Siapa yang menguasai informasi, maka pihak tersebut yang paling berpeluang untuk mengembangkan organisasinya. Ini berlaku baik itu untuk organisasi profit maupun non-profit.
Pemicu transformasi orientasi industri ini salah satu penyebab yang mempunyai peran yang signifikan adalah perkembanga teknologi yang berhubungan dengan pertukaran informasi secara khusus dan segala bentuk teknologi yang berkaitan dengan pengumpulan, pengolahan dan penyebaran informasi pada umumnya. Perkembangan teknologi informasi juga mendorong perkembangan industri disuatu negara menjadi lebih cepat dan menjadi lebih subur. Hal ini disebabkan oleh perubahan paradigma dalam dunia industri, yang pada masa kejayaan industrial economy disokong oleh ekonomi kapitalis, menjadi kemampuan untuk mengumpulkan, mengolah dan memanfaatkan informasi pada iklim networked economy.
Dalam peta pasar industrial economy, tantangan yang sangat kritis adalah manajemen kompetisi standar teknologi yang akan digunakan untuk mendominasi teknologi[[1]], yang secara langsung akan mempengaruhi market share. Namun, hal itu masih kurang, karena dalam networked economy yang dimulai akibat adanya transparansi informasi, yang memiliki peranan penting adalah yang memiliki informasi (knowledge), bukan hanya penguasaan teknologi. Hal ini secara langsung mengubah peta industri dari konsep menjual brand menjadi menjual ide. Namun ide saja tidak cukup tanpa didukung oleh kemampuan untuk menganalisis fenomena bisnis internal maupun eksternal dan menjadikannya informasi yang cepat dan akurat sebagai bahan dalam memutuskan strategi perusahaan kedepannya dalam menghadapi kompetisi.
Berawal dari hal itulah, maka timbul kesadaran untuk memanfaatkan data-data perusahaan yang asalnya hanya diperlakukan sebagai arsip, menjadi sebuah sumber informasi untuk menganalisis keadaan perusahaan dan memetakan kebijakan-kebijakan strategis berdasarkan informasi tersebut. Maka berkembanglah suatu bagian dari teknologi informasi yang disebut sebagai business intelligence.
Secara umum, karakteristik business inteligence adalah sebagai berikut :
a. Kemampuan untuk menampilkan data yang cepat dan akurat.
b. Mempunyai kemampuan untuk menampilkan historical data.
c. Memiliki kemampuan untk menampilkan data secara real time dari berbagai sumber data
d. Memiliki fitur pelapotan yang komprehensif dengan tingkat akurasi yang tinggi.
e. Memiliki kemampuan untuk menampilkan hasil analisis yang bisa digunakan sebagai bahan pertimbangan decission maker dalam pengambilan keputusan strategi bisnis.
f. Memiliki stabilitas, availability dan reliabilitas yang mumpuni.
Pembahasan mengenai business intelligence akan dibahasa kembali lebih rinci pada bagian tersendiri dari tulisan ini.
Permasalahan yang menjadi kendala dalam penerapan business inteligence adalah kecenderungannya memiliki up-front cost yang besar. Hal ini karena kebutuhan dalam pembangunan sebuah sistem business intellligence yang cukup memakan biaya yang disebabkan oleh kebutuhan dasar dalam pengembangan sistemnya. Hal inilah juga yang menyebabkan teknologi yang mendukung business intelligence masih masuk dalam kategori high and expensive.
Untuk mengatasi kendala ini, seiring dengan tumbuhnya teknologi yang mendukung cloud service, maka diajukan sebuah solusi untuk menggabungkan atau mengimplementasikan business intelligence dengan menggunakan cloud service. Mengenai cloud service akan dibahas pada bagian tersendiri.
Secara umum yang menjadi permasalahan utama yang akan dibahas pada tulisan ini terkait dengan pertanyaan :
1. apakah Business intelligence bisa diimplementasikan pada layanan cloud ?
2. apakah dampak yang ditimbulkan akibat implementasi Business intelligence pada layanan cloud?
3. bagaimana cara untuk meminimalkan resiko implementasi Business intelligence pada layanan cloud?
II. Business Intelligence
Secara etimologi, business intelligence berkaitan dengan proses perubahan, pengolahan data-data yang dimiliki oleh perusahaan menjadi informasi yang hasilnya akan dijadikan sebagai bahan untuk pembuatan keputusan untuk kepentingan bisnis.
Mengingat bahwa implementasi sebuah sistem business intelligence sebagaimana telah disinggung pada bagian pendahuluan tulisan ini cenderung membutuhkan biaya yang sangat besar, maka sebelumnya perlu diperhatikan faktor-faktor yang mengindikasikan kebutuhan untuk implementasinya. Karena ada kalanya, sebuah perusahaan cukup mengandalkan OLTP biasa untuk membantu pengambilan keputusan, dan dirasa tidak perlu untuk implementasi sistem business intelligence.
Dalam buku [2], disebutkan beberapa kriteria dan faktor yang harus diperhatikan sebelum business intelligence diimplementasikan :
a. Informasi seperti apa yang dibutuhkan ?
b. Untuk tujuan apa analisis bisnis dilakukan ?
c. Keputusan bisnis seperti apa yang akan dilakukan ?
d. Apakah akan mempengaruhi core bisnis perusahaan ?
e. Berapakah nilai bisnis value yang diharapkan ?
f. Dengan perubahan apakan hal-hal tersebut ingin dicapai, dengan perubahan orang, perubahan proses atau perubahan teknologi ?
Hal ini juga dilakukan untuk mengindentifikasi dan menganalisis alignment antara strategi bisnis dan strategi TI terkait implementasi sistem business intelligence. Hal ini untuk mencegah terjadinya pemborosan anggaran yang tidak sesuai dengan peruntukannya yang pada akhirnya akan mengakibatkan kerugian bagi perusahaan.
Dalam implementasinya, busines intelligence tetaplah hanya berfungsi sebagai alat yang membutuhkan input data. Akurat atau tidaknya hasil analisis dari business intelligence tergantung kualitas data yang dijadikan sebagai inputnya. Dalam hal ini, business intelligence menganut konsep garbage in garbage out.
Gambar 1. Business Intelligence flow
Dalam penyediaan data input, keberadaan sebuah data warehouse merupakan sebuah hal yang sangat dianjurkan walaupun bisa saja menjadikan transactional data menjadi input. Hal ini disebabkan oleh karakter datawarehouse bersifat non-volatile dan time variant, sehingga komparasi data hasil analisis dari waktu kewaktu bisa dilakukan dan terus terjaga. Hal ini juga untuk menjaga performa dari sistem business intelligence itu sendiri, terkait dengan pemrosesan di level data source.
Dalam perkembangannya, business intelligence juga mengkombinasikan antara kemampuan data mining, artificial intteligence dan statistik semisal analitic hirarki process agar bisa menghasilkan suggestion yang valid dan menghasilkan proses yang lebih adaptif dalam pengolahan datanya.
I. Cloud Service
Istilah cloud, sebagaimana dalam istilah cloud computing, berasal dari simbol cloud pada sebuah topologi jaringan, yang lebih sering digunakan sebagai simbol untuk internet.
Mengenai pengertian cloud itu sendiri, secara luas bisa diartikan sebagai semua sumberdaya yang berhubungan dengan komputasi atau perangkat lunak yang berada diluar firewall [1]. Menurut pengertian ini, semua sumberdaya yang berada diluar firewall perusahaan dikategorikan sebagai cloud, termasuk juga penggunaan sumberdaya yang berasal dari mekanisme outsourcing.
Dalam pengertian yang lebih sempit, cloud didefinisikan sebagai infrastruktur berbasis jaringan, software dan kapasitas sebagai penyedia sumberdaya bagi user pada sebuah lingkungan tertentu sesuai dengan permintaannya. Cloud menyediakan komputer virtual yang memeberikan kemampuan kepada user untuk mengoperasikannya sesuai dengan kebutuhan, dan pembayarannya sesuai dengan penggunaannya [2].
Dari kedua pengertian diatas bisa dikatakan bahwa cloud adalah sebuah layanan yang memberikan layanan kepada user dalam penyediaan sumberdaya yang dibutuhkan oleh user dengan memanfaatkan koneksi jaringan, dengan menggunakan mekanisme pay on usage. Bentuk layanan yang disediakan bisa berupa infrastruktur ataupun software. Tipikalnya, layanan cloud memanfaatkan web browser sebagai sarana untuk mengakses layanan yang disediakan oleh pemilik layanan.
Salah satu karakteristik yang utama dari cloud berdasarkan uraian diatas, adalah secara kasat mata user tidak mengetahui keberadaan ataupun lokasi hardware ataupun software yang digunakan untuk melayaninya, karena pada cloud, user membayar servicenya, bukan membayar software ataupun hardwarenya.
Beberapa tipe layanan yang disediakan cloud, diantaranya adalah :
1. Utility computing
Yaitu penyediaan sumberdaya yang sistem pembayarannya berdasarakan penggunaanya.
2. Software as a service (SaaS)
Yaitu aplikasi yang didistribusikan atau dikirimkan oleh pihak ketiga melalui browser.
3. Platform as a service(PaaS)
Yaitu lingkungan development yang disediakan sebagai sebuah layanan yang berjalan diatas infrastruktur yang dimiliki oleh penyedia layanan.
4. Web service in the cloud
API (application programming interface) yang menyediakan fungsionalitas melalui internet.
5. Managed service Providers
Yaitu aplikasi yang disediakan untuk IT terpusat, seperti scan virus, anti spam dan monitoring jaringan.
6. Infrastructure as a service (IaaS)
Yaitu infrastruktur disediakan oleh provider untuk kebutuhan user, seperti penyediaan virtualized privte server.
Dari kelima tipe layanan tersebut, yang dilakukan user hanya request layanan yang diinginkan, dan provider yang menyediakan semua sarana dan infrastrukturnya, sehingga bisa melayani kebutuhan user. Dalam hal ini lebih sering user tidak berinteraksi langsung dengan infrastruktur yang disediakan oleh provider, kecuali untuk layanan utility computing yang masih memungkinkan user bersentuhan langsung dengan infrastrukturnya.
Pendekatan dengan mekanisme cloud ini akibatnya tidak hanya mempengaruhi bagaimana cara penggunaan service, tapi juga mempengaruhi teknologi dan proses yang digunakan untuk membangun dan mengelola teknologi informasi pada perusahaan dan penyedia layanan. Hal ini juga akan secara langsung mempengaruhi resiko yang mungkin timbul, sehingga diperlukan sebuah mekanisme assesment resiko yang lebih dalam dan komprehensif, terkait faktor confidentiality, integrity, availability dan accountability dari data yang diolah dalam sistem cloud. Hal ini juga akan berdampak langsung kepada kebutuhan service level aggreement yang menyangkut hak-hak dan kewajiban antara user dan penyedia layanan yang lebih ketat.
Keberadaan SLA yang mencakup keempat aspek diatas merupakan sebuah keharusan. Hal ini terlebih sangat diperlukan jika menggunakan public cloud service. Dalam implementasinya, terdapat 5 buah tantangan seperti terlihat pada gambar 2, yaitu, terkait dengan :
1. Pengelolaan keamanan dan resiko bisnis
2. Menjaga tatakelola dan proses audit
3. Flexibilitas dalam pemilihan penyedia layanan
4. Mengelola service lifecycle
5. Proses integrasi dengan IT dan proses bisnis.
Jika kelima buah tantangan tersebut bisa dihadapi, maka penggunaan layanan cloud dalam sebuah organisasi akan meningkatkan agility, mengurangi cost, dan adanya pembagian resiko yang diakibatkan oleh adanya threat dan vulnerabilities yang dimiliki oleh sistem penyedia layanan yang digunakan antara pengguna layanan dengan pihak penyedia layanan.
I. Business Intelligence dalam Cloud service
IV.1 Arsitektur dan Implementasi
Sebagaimana telah disinggung pada bagian sebelumnya, tingginya biaya yang harus disediakan dalam implementasi business intelligence bisa diatasi dengan cara membuat business intelligence berjalan dengan menggunakan layanan cloud.
Yang bisa digunakan sebagai sarana impelemtasi business intelligence dalam layanan cloud, adalah memanfaatkan tipe layanan Software as a service (SaaS). Dalam artian, provider menyediakan sistem business intteligence dan user hanya membayar layanannya saja, sehingga user tidak dibebani biaya pengadaan dan pengembangan business intelligence. Hal yang diharapkan dari penggunaan SaaS sebagai kendaraan Business Intelligence adalah agar layanan business intelligence tersedia bagi seluruh kalangan yang potensial, bukan hanya yang memiliki kapital yang besar saja.
Namun untuk solusi yang lebih komprehensif, kombinasi antara SaaS, PaaS dan IaaS bisa menjadi pilihan yang menjanjikan. hal ini didasarkan atas alasan jika SaaS saja, harus dipikirkan mekanisme data loadingnya, dan keamaan ketika transport data ke layanan sistem business inteliigence. Dengan integrasi ketiga layanan SaaS untuk sisi aplikasi, PaaS untuk sisi platform dan IaaS untuk infrastruktur maka permasalahan diatas bisa diatasi dengan lebih mudah.
Yang harus dipertimbangkan juga dalam penggunaan cloud untuk penggunaan layanan business intelligence, adalah faktor :
1. Data loading
2. Keamaan data
3. Service level agreement antara pengguna layanan dan provider
4. Integrasi sistem cloud dengan sistem yang ada di internal perusahaan
5. Kualitas provider
6. Investasi vs keuntungan yang akan didapat.
Gambar 3. Kombinasi SaaS, PaaS dan IaaS
IV.2 Assesment Resiko
Dalam kaitannya dengan assesment resiko sebelum memilih menggunakan layanan cloud untuk implementasi business intelligence, maka perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut untuk menjaga faktor confidentiality, integrity, availability dan accountability dari data-data yang sangat mungkin bersifat kritis bagi perusahaan, langkah-langkah ini bersifat generic dan bisa diimplementasikan untuk implementasi selain business intelligence.
1. Identifikasi aset-aset yang di deploy di layanan cloud
Yang dimaksud aset disini bisa dikelompokan secara umum menjadi 2 buah kelompok besar, yaitu :
a. Data
b. Aplikasi termasuk proses atau fungsi
2. Evaluasi aset
Setelah Identifikasi, maka evaluasi dilakukan untuk mengukur resiko yang dikandung masing-masing aset, sehingga bisa dilakukan pemilahan aset-aset mana saja yang bisa di deploy di layan cloud, mana yang harus tetap berada di internal perusahaan.
3. Menentukan model layanan cloud
Setelah mengidentifikasi dan mengevaluasi aset, maka langkah selanjutnya adalah menentukan model layanan cloud yang akan digunakan, apakah akan menggunakan public cloud, private cloud, atau hybrid.
4. Mengevaluasi model layanan cloud dan provider.
Langkah selanjutnya adalah mengevaluasi kelebihan dan kekurangan masing-masing model dan memilih yang cocok dengan kebutuhan.
Yang tidak kalah pentingnya, juga mengevaluasi providernya. Kedua hal ini akan sangat diperlukan untuk melakukan skenario penanganan terhadap resiko yang mungkin terjadi, apakah di mitigasi, dihindari atau di terima.
5. Membuat data flow
Data flow disini, maksudnya adalah data flow antara layan cloud, sistem yang ada di internal perusahaan dan stakeholder lainnya yang berkaitan langsung dengan layanan yang dideploy di layanan cloud.
6. Membuat SLA
Langkah yang paling terakhir adalah membuat Service Level Aggreement untuk mengakomodasi hasil-hasil analisis yang dilakukan pada poin-poin sebelumnya.
IV.3 Komparasi kelebihan dan kekurangan
Disamping perlunya menerapkan mekanisme assesment resiko dan pengelolaan yang lebih ketat, penggunaan layanan cloud dalam implementasi business intelligence jika dibandingkan dengan implemnasti di internal, bisa dilihat pada tabel berikut :
|
Cloud BI |
Internal BI |
|
Tidak memerlukan setup dan maintain server |
Memerlukan sumberdaya IT untuk set up dan me-maintain server |
|
Tidak memerlukan capital expenditure |
Memerlukan capital expenditure |
|
Dapat di deploy dengan cepat |
Memerlukan sumber daya untuk membeli server, installasi dan konfigurasi software BI |
|
Upgrade software ottomatis |
Upgrade software harus manual |
|
Dapat melakukan penambahan jumlah user yang diinginkan sesuai permintaan |
Harus menambah kapasitas server dan memperbarui lisensi jika terjadi penambahan user |
|
Dapat berhenti menggunakan layanan kapan saja. |
Harus terus menerus membayar biaya perawatan sesuai dengan kontrak per tahun. |
Table 1. Komparasi Cloud BI dan Internal BI [1],[2]
Berdasarkan tabel diatas, terlihat bahwa penggunaan layanan cloud untuk implementasi Business intelligence memiliki beberapa kelebihan diantaranya jika ditinjau dari sisi fleksibilitas, agility, adaptasi terhadap perubahan, mengurangi up-front cost, mereduksi biaya perawatan, dan mereduksi capital expenditure dengan syarat pengelolaan dan service level agreement dipenuhi.
Kesimpulan
Dari pembahasan dan uraian diatas, bisa ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Business intelligence bisa digunakan sebagai sarana pendukung dalam pengambilan keputusan strategis dalam perusahaan
2. Implementasi business intelligence bisa dilakukan dengan memanfaatakan layanan cloud
3. Implementasi Business intelligence dengan menggunakan layanan cloud lebih fleksibel, agile, adaptif, mengurangi up-front cost, mereduksi biaya perawatan, dan mereduksi capital expenditure .
Implementasi busines intelligence dengan layanan cloud memiliki resiko dan memerlukan penanganan yang lebih ketat untuk menjaga data-data perusahaan yang berkaitan dengan faktor confidentiality,integrity, availability dan accountability.
|
Cloud BI |
Internal BI |
|
Tidak memerlukan setup dan maintain server |
Memerlukan sumberdaya IT untuk set up dan me-maintain server |
|
Tidak memerlukan capital expenditure |
Memerlukan capital expenditure |
|
Dapat di deploy dengan cepat |
Memerlukan sumber daya untuk membeli server, installasi dan konfigurasi software BI |
|
Upgrade software ottomatis |
Upgrade software harus manual |
|
Dapat melakukan penambahan jumlah user yang diinginkan sesuai permintaan |
Harus menambah kapasitas server dan memperbarui lisensi jika terjadi penambahan user |
|
Dapat berhenti menggunakan layanan kapan saja. |
Harus terus menerus membayar biaya perawatan sesuai dengan kontrak per tahun. |


