Chapter V : Hidup itu resiko, sebuah studi kasus ngawur (ilmiah bro..) – bagian I

Author:

Tulisan chapter ke lima, mohon maaf jika bahasa yang digunakan nyablak.. alias ngalor ngidul gak jelas ritme dan alurnya.

Jadi ingat sebuah jargon ketika mengikuti OS dulu. “hidup adalah pilihan, dan setiap pilihan ada konsekwensinya”. Namun jika dilihat dari bahasa, kayaknya kita punya hak prerogatif untuk menentukan hidup, karena secara implisit, pernyataan diatas mengindikasikan ada pilihan yang lain yang bisa dipilih dan ditentukan oleh manusia untuk dipilih (mungkin juga bukan ini maksudnya). Tapi mungkin juga jargon tersebut tidak dimaksudkan untuk itu, tapi memiliki makna bahwa setiap langkah yang kita tempuh dalam menjalani hidup, yang kita rancang dan rencanakan pasti memiliki konsekwensinya masing-masing. So, ketika kita membat sebuah rencana baik itu jangka pendek maupun jangka panjang, kita harus sudah mengerti resiko yang akan dihadapi. Bukan Cuma tahu dan mengerti tapi mempunyai methodology untuk mengantisipasi resiko tersebut.

Kembali dengan istilah resiko, kadang orang mengkonotasikan resiko itu negatif, padahal sejatinya resiko bisa saja positif. Misal saja, ketika kita mempunyai mobil, resiko negatifnya bahwa kemungkinan besar kita akan menyumbang peran dalam peningkatan polusi udara, atau mobil kita dicuri orang. Namun resiko positifnya bahwa mobilitas menjadi lebih tinggi (asumsi bukan di jakarta yeee, biar gak kena macet dimana2). Mengingat hal tersebut maka perlu mekanisme untuk memaksimalkan potensi positif yang ada dari sebuah peristiwa (event)/ keadaan dan meminimalkan dampak negatifnya. Proses untuk mencapai hal diatas disebut dengan management resiko alias risk management.

Mungkin kita lebih familiar dengan istilah manajemen resiko dalam ruang lingkup bisnis, perusahaan ataupun proyek. Namun sebenarnya manajemen resiko juga sangat perlu diterapkan dalam hidup sehari-hari. Setiap aspek apapun yang kita rencanakan dalam hidup, setiap tindakan yang akan dilakukan harus memikirkan aspek resikonya, dan harus dipikirkan dengan jernih dan memperhitungkan segala hal yang mungkin terjadi, positif dan negatifnya. Dalam prosesnya, tentu saja harus dilakukan risk assesment terlebih dahulu. Untuk memudahkan hal itu maka analogikanlah hidup ini sebagai sebuah proyek implementasi amal dan ilmu yang tujuannya adalah memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Sesuai dengan judul diatas, bahwa hidup adalah resiko, dan setiap resiko harus di manage dan dikelola dengan baik. Yang harus dilakukan adalah dengan melakukan self risk assesment. Beberapa langkah yang harus dilakukan dalam mengelola resiko, dalam hidup :

1. Rencanakan hidup dengan baik, buat perencanaan dengan baik

Maksudnya, buatlah perencanaan untuk setiap aktivitas yang akan dilakukan, termasuk membuat perencanaan untuk menanggulangi resiko yang mungkin dihadapi.

Misalnya, buatlah todo list daily, weekly or monthly, dan kalo bisa tentukan target yang ingin dicapai. Jangan lupa tentukan langkah-langkahnya, secara global aja.

2. Identifikasi resiko yang mungkin terjadi dan buat alternatif solusi global

Cobalah dari langkah-langkah dan todo list yang telah dibuat, identifikasikan resiko yang mungkin muncul, dan coba kuantifikasi nilainya, misal dalam persen berdasarkan dampak dan probabilitasnya.

Contoh simpel:

Todo list minggu ini :

  • Target : menyatakan rasa suka kepada seseorang yang pasti kita sukai dong
  • langkah :
  • alternatif I : jika berani, kemukakan langsung didepannya didepan banyak orang, sambil bawa bunga mawar.
    • Resiko positif : diterima dan dijadikan sebagai ajang pengumuman kepada khalayak ramai bahwa kita jadian. Score = 3
    • Resiko negatif : ditolak, digampar, dikata-katain (berani2nya loe suka ame gw), bikin malu diri sendiri, diketawain orang, dll. Score = 2, Final score = 3-2 = 1.

  • Alternatif II : jika jauh dan gak punya modal, Kirim via SMS dengan bahasa “dewa.
    • Resiko positif : diterima, dibales lagi dengan bahasa “dewa” juga, irit ongkos, sebagai latihan sebagai penulis sajak, kalo ditolak gak akan malu, pura2 salah kirim …Score = 2
    • Resiko negatif : ditolak, dikatain=” gak modal banget sih lo, kalo mau ama gw dateng dong jantan dong”. Score = 5.   Final Score = 2-5 = -3.

  • Alternatif III : jika jauh dan biar bisa panjang lebar, Kirim via Email dengan attachment lagu kenny roger (“have I told you lately that I love U “), dilengkapi dengan soneta 14 baris mengisahkan perjuangan cinta, dan jangan lupa memakai latar belakang music kenny G (jika bisa), atau background bunga mawar..
    • Resiko Positif : Diterima, dan dapet balesan email berupa novel ayat-ayat cinta. Score = 6
    • Resiko Negatif : Di tolak, emailnya masuk spam box, didelete oleh antivirus, didelete temennya (kyk di friends).Score = 1 ,Final Score = 5.

Dari uraian yang dibuat, maka diputuskanlah alternatif 3 yang paling baik scorenya untuk dilaksanakan dan dieksekusi untuk mencapai target agar diterima jadi pasangan orang yang kita sukai.

(Bersambung, udah nguantuuuuuuuk ……)

5 thoughts on “Chapter V : Hidup itu resiko, sebuah studi kasus ngawur (ilmiah bro..) – bagian I”

  1. Hmm… Manajemen resiko ya, menurutku intiny “mikir sebelum bertindah” aja, simple kan. Skalian mampir nih, ternyata masih keren-an blogku :p

  2. wehehehe …
    kadang kan orang kalo cuma mikir doank depend on mood ..
    makanya kalo bisa sih diformalkan … ada dokumennnya …
    minimal todo list itu lho, yang nantinya bisa di buat untuk bahan evaluasi …

    1. aku punya file2 pdf ttg RM (risk management). Malah bikin pusing, jadi aku pake bakat alami dlu aja, yaa yg kyk to-do-list yg diatas itulah… btw contoh todolist mu unik jg ya.. heheheh….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *