cerita tanpa judul [1]

Author:

Bismillah ….

Hembusan angin menerpa wajah-wajah yang kuyu, kusut masai, semburat cahaya
merah menyembur dari ufuk barat, mengiringi tenggelamnya rasa damai dalam
suasana terang ditengah hiruk pikuknya, hilir mudiknya hamba-hamba mengejar
segala asa dan cita.

Jakarta, ibu kota negara, pusat segala asa namun penuh dengan gejolak dan suasana
yang kadang lebih sering memberikan nestapa bagi sebagian pengadu nasib yang
terlalu terbuai dengan indahnya kata metropolitan kota sejuta harapan, tempat semua
kesempatan hidup terbuka.

Hari itu, entah hari apa, entah jam berapa, entah menit atau detik yang keberapa, yang
teringat hanya suasana seperti itulah yang selalu dirasa ketika kaki gontai melangkah
menuju tempat berlindung dari dingiinya malam, tempat untuk melepas lelah setelah
seharian berkutat dengan tugas yang membebani, mencoba untuk selalu bertahan dan
menumbuhkan optimisme, hari esok mungkin tidak akan seberat hari ini ….

Tidak terasa, kalau dihitung, ntah berapa langkah den jejak yang dibuat ketika
menyusuri lorong-lorong pengap perkampungan ibukota , sebuah slump area yang
sangat kontras ketika membandingkan dengan kawasan pusat bisnis yang jaraknya
hanya 300 meter di depan ….

Kontras sungguh kontras, ketika kawasan bisnis dihiasi dengan rangkaian bunga yang
selalu terlihat segar sebagai pembatas jalan protokol, thamrin namanya dengan sarinah
sebagai landmark tanda kekuatan bisnis pertama yang muncul di pusat ibu kota, dan
bundaran hotel indonesia, yang sekarang berubah dengan embel-embel kempinsky
sebagai pusat perjuangan untuk melepaskan ekpresi ketidakpuasan akan ketidak
adilan di negara ini, pinggir-pinggir jalan yang di penuhi dengan gedung pencakar
kangit menjulang tinggi, menera eksekutif, skyline buillding, menara thamrin, wisma
kosgoro dan Plaza indonesia sebagai landmark baru, yang katanya sebagai pusat
perbelanjaan terlangkap, yang sayangnya hanya diperuntukan bagi orang yang tidak
pernah merasakan betapa susahnya mendapatkan sebungkus nasi kering dengan lauk
garam dan sepotong tempe bongkrek sisa kemarin malam. Namun kawan, coba
tengok tiga ratus meter dibelakang gedung-gedung tersebut, lorong pengap, bau
tempat anak-anak kecil berlari-lari menangkap masa kecil mereka, tempat tikus-tikus
got berseliweran berebut jalan dengan manusia penghuni ibukota yang kadang hanya
bisa termangu, menggerutu dan marah –marah akibat merasa ketidak adilan hidup
yang mereka rasakan. Ketika orang berjas berlalu lalang dengan rasa pongah
meneriakan kesombongan dengan gelegar klakson penyumbang polusi ibukota,
meraka, orang pinggiran itu harus susah payah berjalan perlahan di trotoar kusam
yang sebagain besar direbut pengendara roda .. jakarta oh jakarta …

Ah … tapi buat apa mengumpat, itu hanya menunjukan ketidak mampuan dan iri hati
dan hasad yang tidak ada dasarnya, toh .. dengan tidak mengumpatpun hidup ini
sudah terasa berat.. mungkin itulah satu-satunya penghibur penghuni slump area di
tengah ibukota untuk mendinginkan dan menurunkan tensi emosi yang tidak jelas
ujung pangkalnya, namun satu yang jelas, disebabkan ketidak becusan penguasa
negeri yang hanya memikirkan kondisi real makro ekonomi tanpa melihat kondisi real
mikro yang terjadi dimasyarakat .. tidak peduli berapa orang lagi masyarakat negara
yang subur ini yang lahir dalam penderitaan hidup, yang mereka pedulikan Cuma
bagaimana menaikan pamor negeri dengan mengutak-atik pertumbuhan ekonomi 3
digit yang sebenarnya hanya dinikmati sebagian kecil penduduk negeri ini, kalangan
borjuis, kapitalis dan opportunis bengis yang mengais rejeki diatas tumpukan
penderitaan proletar, sapi perah yang dibodoh-bodohi dengan janji-janji kemakmuran
yang hanya tinggal janji tanpa realisasi …

Kawan, kau mungkin bertanya, kenapa aku peduli, kenapa aku tahu realitas kehidupan
di ibu kota yang katanya lebih kejam dari pada ibu tiri …. Jawabnya, .. yah mungkin
aku sotoy , sok tahu sok peduli sok kritis, tapi satu yang pasti pemikiran dan pendapat
itu muncul akibat pengulangan dan pemahaman sebuah pengalaman hidup, yang
walau tidak terasa sudah ku jalani menjelang 12 bulan setelah pertama kali semenjak
aku memutuskan meninggalkan hiruk pikuk kehidupan kampus, meninggalkan
kenangan hidup yang penuh dengan liku dan perjuangan anak manusia dalam
menggapai cita menempatkan diri di jajaran manusia yang katanya ‘berpendidikan ‘….
Hampir setiap hati selama 12 bulan ini ku susuri jalan yang sama, kompleks yang
sama suasana yang sama bahkan jalan yang sama, sehingga kalo dihitung jejak
langkahku dengan asumsi 1 hari ku berjalan kaki bolak balik tempat kerja 4 KM,
berarti 4 * 12 * 30 = 1440 KM sudah ku lewatkan kakiku menginjak tempat yang
hampir sama dengan 4 * jarak bandung jakarta. Yah mungkin juga kau akan langsung
protes, aku terlalu menggenalisir keadaan, tidak semua tempat di ibu kota seperti itu
… yah mungkin sample yang ku buat terlalu sempit dan sedikit, tapi tetap mempunyai
probabilitas kebenaran kan ? walupun hanya sepersekian ratus dari ‘kebenaran’ versi
yang lain.

Sudahlah kita gak usah berdebat tentang hal itu, itu realitas yang bisa dibantah jika
engkau berada di sisi penguasa negeri, lengkap dengan hasil statistik yang ntah
‘kebenarannya’ berepa persen mereka mengklaim telah memajukan dan
mensejahterakan negeri ini …

Imperium [senin, 28 dec 09, 2:30 PM]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *